Kaimana – Memanfaatkan potensi alam untuk kesejahteraan perempuan adalah upaya memberikan kesadaran kepada kaum perempuan untuk terus bangkit dari sistem sosial – patriarki yang melekat pada masyarakat kampung.

Ketimpangan yang terjadi mengeser porsi tanggung jawab atas dasar perintah, kepatuhan dan ketakutan semata terhadap kaum laki-laki.

Pendeta Joyce Essuruw, dalam pengabdiannya memberdayakan perempuan di Distrik Teluk Arguni, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat, mengatakan, pemberdayaan perempuan adalah bentuk perlawanan terhadap sistem sosial – patriarki.

“Perempuan yang sudah dibebani dengan pekerjaan rumah tangga, masih harus bekerja mencari nafkah ke laut untuk menangkap ikan atas dasar perintah suami,” ucap Pendeta GPI Papua itu saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (19/01/2024)

Langkah-langkah kongkrit perlu dilakukan dalam rangka memberdayakan perempuan agar memiliki keterampilan untuk hidup mandiri dan kuat. Memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah adalah jalan yang sudah diberikan oleh Sang Pencipta bagi masyarakat adat atau kampung.

“Teluk Arguni memiliki laut dan kali yang sangat luas, langkah pertama yang kami tempuh melengkapi diri dengan ketarampilan, setelah itu merekrut mama-mama untuk terlibat membuat aneka olahan Ikan Gulama,” tuturnya.

Ikan Gulama diambil gelembungnya untuk dijual, dagingnya kami manfaatkan untuk membuat abon, dendeng, dan nugget,” sambung Pendeta Joyce.

Tidak hanya Ikan, hasil alam lain seperti buah pala pun – ikut diolah dalam pelatihan pemberdayaan perempuan agar memiliki keterampilan yang mumpuni.

“Yang kami lakukan adalah mengambil kulit pala dan mengolahnya menjadi sirup, permen, manisan serta selai pala – yang selama ini masyarakat hanya memanfaatkan biji pala dan bunga pala saja,” jelas Joyce yang mengadakan kegiatan pelatihan ini di dua kampung berbeda yaitu Kampung Wetuf dengan jumlah peserta 37 orang perempuan dan Mandiwa 35 orang perempuan.

joyce mengatakan, dalam waktu dekat, Ia dan tim akan melakukan pendampingan dan melatih mama-mama kampung wainaga dan Urisa cara membuat tepung dan beras dari sagu.

“Tidak hanya ikan dan Pala, Kami juga akan melatih mama-mama kampung Wainaga dan Urisa membuat tepung dan beras dari sagu, sebab kedua kampung tersebut adalah penghasil sagu terbaik di Kabupaten Kaimana,” katanya.

Perempuan Dalam Pasungan Dan Dorongan Kuat Untuk Kembali Mengabdi

Saat ditanya, apa alasan yang mendorong anda kembali mengabdi di Kampung, pedalaman kaimana?! Pendeta Joyce lantas bercerita tentang tesisnya yang mengambil topik Ketidakadilan Gender dengan judul : Perempuan Dalam Pasungan.

Patriarki adalah sistem sosial yang didominasi oleh laki-laki, dimana kekuasaan dan otoritas cenderung terpusat pada laki-laki.

Di Tanah Papua, sistem sosial – patriarki dapat tercermin dalam sejumlah aspek kehidupan masyarakat, terutama di komunitas yang masih menganut tradisi dan budaya konservatif.

Praktek-praktek  sistem sosial – patriarki pada tatanan masyarakat papua di beberapa kampung dapat dilihat, bagaimana masyarakat adat memposisikan perempuan sebagai nilai transaksi ekonomi.

“Perempuan papua dalam beberapa masyarakat adat masih diposisikan rendah. Membayar mahar atau emas kawin (red: mas kawin) sebagai transaksi “ekonomi” ini melemahkan perempuan. Perempuan dikondisikan sebagai barang yang dibeli,” ujar Pdt, Joyce.

Emas Kawin (red: mas kawin) menurutnya adalah nilai yang dipakai untuk menunjukkan betapa berharga dan mahalnya perempuan.

“Mahal dan berharga karena perempuan memberikan kehidupan artinya Ibu mengandung, melahirkan dan merawat kehidupan. Perempuan yang merawat kehidupan setelah menikah artinya perempuan akan mengupayakan menghidupi anggota keluarga. Perempuan yang sedang menghidupi kehidupan , ini titik yang sulit karena beban kehidupan yang dipikul perempuan, Ia akan membagi tanggung jawab itu kepada anak perempuannya atau tidak anak laki-lakinya,” imbuhnya.

Bahkan dalam pandanganan Alkitab, menurut Pendeta Joyce Essuruw, perempuan diciptakan untuk menjadi penolong yang sepadan untuk laki-laki. Namun dalam perjalanan waktu mengalami pergeseran karena sistem budaya yang menempatkan laki-laki sebagai kepala (red: Pemimpin) dan perempuan jadi warga kelas dua. Sistem ini kuat dalam budaya masyarakat adat papua.

Menurut Joyce perempuan papua dapat keluar dari sistem sosial – patriarki dengan melibatkan diri dalam upaya pemberdayaan dan perubahan sosial, salah satunya yang telah Ia lakukan yaitu Ekonomi Mandiri.

Untuk itu Pendeta Joyce berharap apa yang telah Ia lakukan, mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kaimana serta dukungan dari semua perangkat pelayanan GPI Papua Klasis Teluk Arguni.

“Saya berharap mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten kaimana serta dukungan dari semua perangkat pelayanan GPI Papua Klasis Teluk Arguni,” tutupnya. (jm/pr)