Sorong – Kepolisian Daerah Papua Barat Daya memastikan tidak akan memberi ruang sedikit pun bagi pelaku kekerasan yang meresahkan warga sipil di Kabupaten Tambrauw.

Wakapolda Papua Barat Daya Kombes Pol Semmy Ronny Thabaa menegaskan, aparat keamanan akan bertindak tegas terhadap kelompok yang bertanggung jawab atas rentetan serangan yang menelan korban jiwa di wilayah tersebut.

Penegasan itu disampaikan dalam kunjungan langsung Wakapolda bersama Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) ke Distrik Bamusbama, Rabu (18/3/2026).

Kunjungan ini merupakan respons cepat pemerintah atas eskalasi kekerasan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan memicu keresahan luas di tengah masyarakat.

“Tidak ada toleransi bagi para pelaku teror di wilayah Papua Barat Daya, khususnya di Kabupaten Tambrauw,” tegas Kombes Pol Semmy Ronny Thabaa dalam keterangannya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas elemen masyarakat dalam menjaga stabilitas keamanan.

“Peran seluruh elemen masyarakat sangat penting, termasuk tokoh adat, tokoh agama, pemerintah setempat, serta partisipasi aktif warga dalam deteksi dini dan pelaporan,” ujarnya.

Wakapolda juga memerintahkan jajaran Polres Tambrauw untuk meningkatkan patroli dan deteksi dini, serta melakukan penegakan hukum secara tegas namun tetap humanis.

Edukasi publik pun terus diperkuat agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dan mendukung langkah profesional aparat keamanan.

Sementara itu, Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu menegaskan keamanan dan keselamatan masyarakat adalah prioritas utama pemerintah.

“Penyerangan terhadap warga sipil merupakan tindakan yang tidak dapat ditoleransi dan harus ditangani secara tegas, terukur, serta tetap menjunjung tinggi hukum dan HAM,” tegasnya.

Pemerintah daerah juga menginstruksikan pendataan korban secara cepat, pemberian layanan medis dan psikologis, serta penyaluran bantuan sosial tepat sasaran.

Rangkaian serangan di Distrik Bamusbama menewaskan sedikitnya tiga warga sipil. Korban pertama adalah Abraham Franklin Delano Kambu (22), tenaga honorer Setda Tambrauw, yang ditemukan meninggal setelah dilaporkan hilang sejak 8 Maret 2026.

Dua korban lainnya, Yermia Lobo (tenaga kesehatan) dan Yohanes Edwintus Bido (pemuda asal Ende), tewas dalam serangan terhadap empat warga sipil pada 16 Maret 2026. Dua korban selamat masih menjalani perawatan medis.

Kapolres Tambrauw AKBP Praja Gandha Wiratama memastikan situasi keamanan pascakejadian terkendali, meskipun kewaspadaan tetap ditingkatkan.

“Kami mengajak masyarakat untuk tidak terprovokasi, segera melaporkan hal mencurigakan, dan bersama-sama menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif,” ujarnya.

Aparat saat ini terus melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap pelaku secara profesional dan terukur. (cr/pr)