Fakfak — Ratusan jemaat memadati Gereja Kristen Injili (GKI) Jemaat Imanuel Fakfak dalam Ibadah Akhir Tahun 2025, Rabu (31/12/2025) malam.
Selain memenuhi ruang utama gereja, sebagian jemaat mengikuti ibadah dari luar ruangan dengan tenda yang disiapkan Majelis yang bertugas, mencerminkan antusiasme umat untuk menutup tahun dengan doa dan perenungan iman.
Ibadah dipimpin Pendeta Frangky Paksoal, S.Th, yang menyampaikan khotbah berdasarkan pembacaan Alkitab 1 Tawarikh 16:7–36 dengan judul perikop “Nyanyian Pujian-Pujian Daud”.
Dalam khotbahnya, Pendeta Frangky mengajak jemaat menjadikan malam terakhir tahun 2025 sebagai momentum syukur sekaligus refleksi atas perjalanan hidup yang telah dilalui.
“Malam ini menjadi momen yang sangat istimewa karena kita berdiri di ambang dua waktu menoleh ke belakang melihat apa yang telah kita lalui, dan menatap ke depan memasuki tahun yang belum kita ketahui,” ujar Pendeta Frangky di hadapan jemaat.
Ia mengingatkan sepanjang tahun 2025, kehidupan setiap orang dipenuhi dinamika: ada suka dan duka, tawa dan air mata, keberhasilan yang patut disyukuri, serta kegagalan yang masih membekas.
Namun, menurut dia, satu hal yang layak disyukuri bersama adalah kesempatan untuk mengakhiri tahun dalam keadaan sehat dan tetap berada dalam kasih serta pemeliharaan Tuhan.
Pendeta Frangky kemudian mengulas pengalaman Raja Daud yang menghadapi pergumulan, penderitaan, peperangan, bahkan kegagalan.
Di tengah hidup yang tidak mudah itu, Daud tidak kehilangan satu hal penting, yakni tetap memuliakan Tuhan.
“Kidung pujian yang dinaikkan Daud bukan sekadar nyanyian, melainkan pengakuan iman bahwa Tuhan adalah sumber kekuatan dan sukacita hidup,” katanya.
Ia menegaskan, Daud mengenal Tuhan bukan hanya sebagai nama dalam ibadah, melainkan sebagai Allah yang hidup dan berkuasa, Raja atas seluruh bumi.
Karena itu, Daud mengajak bangsa-bangsa dan seluruh ciptaan untuk memuliakan Tuhan dan memberikan kemuliaan bagi nama-Nya.
Lebih lanjut, Pendeta Frangky menekankan ibadah tidak berhenti pada ritual di dalam gereja, melainkan harus terwujud dalam sikap hidup sehari-hari.
“Persembahan ibadah dan kehidupan adalah satu kesatuan. Kita tidak bisa berkata mengasihi Tuhan, tetapi enggan datang menghadap Dia. Kita tidak bisa berkata menyembah Tuhan, tetapi hidup kita tidak mau dibenahi,” ujarnya.
Ia mengajak jemaat menutup tahun dengan hati yang tidak mendua, hati yang mau taat dan disucikan.
Menurutnya, tidak ada manusia yang tidak berdosa, tetapi yang dikehendaki Tuhan adalah kesadaran untuk bertobat dan hidup dalam ketaatan.
Menutup khotbah, Pendeta Frangky mengingatkan jemaat pada pengakuan iman yang sederhana namun mendasar.
“Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Dia baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Kebaikan Tuhan, katanya, tidak bergantung pada situasi dan keadaan manusia.
“Tuhan tetap baik ketika kita gagal, dan kasih setia-Nya tidak pernah berhenti,” tutur Pendeta Frangky.
Ibadah Akhir Tahun 2025 itu menjadi ruang refleksi dan pengharapan bagi jemaat GKI Jemaat Imanuel Fakfak, untuk melangkah memasuki tahun baru dengan hati yang bersyukur, iman yang diteguhkan, dan komitmen hidup yang diperbarui. (st/pr)












Tinggalkan Balasan