Jakarta — Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk mempercepat realisasi Proyek Abadi Masela di Laut Arafura yang telah tertunda hampir tiga dekade.

Dalam pertemuan dengan pimpinan perusahaan energi Jepang INPEX Corporation di Tokyo, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menekan agar proyek gas raksasa senilai sekitar Rp339 triliun itu segera memasuki tahap keputusan investasi akhir.

Pertemuan dengan CEO INPEX Takayuki Ueda pada Minggu (15/3/2026) waktu setempat menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk memastikan proyek strategis nasional tersebut tidak kembali mengalami penundaan.

Pemerintah menilai pengembangan Lapangan Abadi Masela berpotensi menjadi penggerak ekonomi baru di kawasan Indonesia timur sekaligus sumber pasokan gas besar bagi industri nasional di masa depan.

Bahlil mengungkapkan progres proyek saat ini telah mencapai sekitar 25 persen. Dengan perkembangan tersebut, pemerintah menargetkan proyek dapat memasuki tahap Front End Engineering and Design (FEED) pada kuartal II 2026 atau paling lambat kuartal III 2026, yang diharapkan dapat berjalan paralel dengan proses tender Engineering Procurement Construction (EPC).

“Karena kami berkeinginan ini bisa cepat supaya jangan ulur-ulur lagi. Ini sudah 27 tahun, masa kita mau tunggu sampai lama baru jadi,” ujar Bahlil.

Untuk memastikan kelangsungan proyek, pemerintah juga menawarkan solusi terkait kepastian pembeli gas dari Lapangan Abadi. Produksi lapangan tersebut diproyeksikan mencapai sekitar 9 juta ton LNG per tahun.

Jika hingga akhir April 2026 belum terdapat pembeli yang serius, pemerintah menyatakan siap turun tangan melalui Danantara untuk menyerap produksi gas tersebut, termasuk untuk kebutuhan program hilirisasi industri nasional.

“Supaya ada kepastian buyer. Saya menghargai buyer luar negeri, tetapi sekarang negara harus hadir memastikan operasi berjalan. Jadi kami saja yang membeli,” kata Bahlil.

Menanggapi dorongan pemerintah Indonesia, CEO INPEX Takayuki Ueda menegaskan pihaknya memiliki komitmen kuat untuk mempercepat realisasi Proyek Abadi Masela. Menurut dia, proyek tersebut telah menjadi fokus utama perusahaan selama lebih dari satu dekade.

“Terima kasih banyak, Pak Menteri, atas komitmennya mendukung proyek ini. Saya sendiri sudah 12 tahun mengerjakan Abadi, dan setelah berdiskusi dengan Pak Menteri kami semakin semangat mempercepat penyelesaian proyek ini,” ujar Ueda.

Dari sisi administratif, proyek ini juga menunjukkan kemajuan signifikan pada awal 2026. Sejumlah perizinan penting telah diselesaikan, di antaranya persetujuan lingkungan (AMDAL) yang diterbitkan pada 13 Februari 2026 serta persetujuan pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan pada Januari 2026.

Dengan percepatan birokrasi, kepastian investasi, serta dukungan lintas kementerian, pemerintah optimistis Proyek Abadi Masela dapat menjadi pusat energi baru di kawasan timur Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di masa depan. (ds/pr)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: