Fakfak — Umat Katolik di Paroki Santo Yosep Fakfak mengikuti perayaan Jumat Agung dengan penuh khidmat, Jumat (23/4/2026).
Ibadat yang menjadi bagian dari rangkaian Tri Hari Suci ini dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong (KMS) Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr., didampingi Pastor Paroki Santo Yosep Fakfak, Pastor Alex Fabianus. Pr.
Sejak awal perayaan, suasana duka Gereja terasa begitu kuat. Tanpa lagu pembuka maupun sapaan liturgis, imam bersama para petugas liturgi memasuki gereja dalam keheningan.
Setibanya di altar, mereka bersujud sebagai simbol kerendahan hati sekaligus ungkapan duka mendalam atas sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus.
Umat yang hadir pun larut dalam suasana hening, tobat, dan permenungan iman.
Perayaan dilanjutkan dengan Liturgi Sabda yang berpuncak pada pembacaan Kisah Sengsara Tuhan Yesus Kristus menurut Injil Yohanes (Yoh. 18:1–19:42).
Kisah sengsara yang dibawakan secara bergantian melalui pasio menghadirkan kembali detik-detik penderitaan Kristus, mulai dari penangkapan di Taman Getsemani, pengadilan, penyaliban, hingga wafat-Nya di kayu salib.
Dalam renungannya, Mgr. Hilarion Datus Lega menegaskan, Jumat Agung bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, melainkan panggilan untuk menghidupi kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
“Jumat Agung bukan hanya mengenang penderitaan dan wafat Tuhan, tetapi menjadi momentum untuk meneladani kasih-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Kasih itu nyata dalam sikap pengampunan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.
Ia juga mengajak umat untuk berani memikul “salib” kehidupan masing-masing dengan iman dan pengharapan, seraya percaya bahwa di balik setiap penderitaan selalu ada rencana keselamatan Allah.
Salah satu momen yang paling menyentuh dalam perayaan tersebut adalah penghormatan salib.
Salib diarak ke depan altar lalu diperlihatkan kepada umat dengan seruan, “Lihatlah kayu salib, di sini tergantung Kristus, Penyelamat dunia.”
Seruan ini menggema dalam suasana hening, mengundang umat untuk memandang salib sebagai tanda kasih Allah yang menyelamatkan.
Secara bergantian umat maju untuk memberikan penghormatan, dengan mencium salib, berlutut, atau membungkukkan badan. Tindakan ini menjadi ungkapan iman, syukur, sekaligus penyesalan atas dosa.
Ibadat kemudian dilanjutkan dengan Doa Umat Meriah, yang menjadi ciri khas liturgi Jumat Agung.
Dalam doa tersebut, Gereja mendoakan berbagai intensi universal, mulai dari Gereja sendiri, para pemimpin bangsa, hingga seluruh umat manusia.
Dalam pesannya, Uskup Hilarion juga menekankan pentingnya menjaga kebebasan dan toleransi hidup beragama, baik di Indonesia maupun di dunia.
“Gereja berdoa agar setiap orang dapat hidup dalam damai, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan tanpa memandang latar belakang agama,” katanya.
Menurut dia, sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk terus merawat harmoni sosial.
Toleransi, kata dia, tidak boleh berhenti pada slogan, melainkan harus diwujudkan dalam sikap hidup sehari-hari.
Rangkaian ibadat kemudian dilanjutkan dengan penerimaan Komuni Suci dari Sakramen Mahakudus yang telah dikonsekrasi pada Misa Kamis Putih.
Sakramen tersebut sebelumnya diarak dari Taman Doa menuju altar dalam suasana hening dan penuh penghormatan.
Prosesi ini mengingatkan umat pada peristiwa Yesus yang berdoa di Taman Getsemani sebelum menjalani sengsara.
Pada malam Kamis Putih, Sakramen Mahakudus dipindahkan ke Taman Doa sebagai lambang Yesus yang berdoa sebelum ditangkap, sementara umat berjaga dalam doa tuguran.
Perayaan Jumat Agung ditutup tanpa berkat penutup, dalam suasana hening yang panjang. Gereja seolah “berdiam diri” dalam duka, menantikan misteri kebangkitan Kristus yang akan dirayakan pada Hari Raya Paskah.
Melalui perayaan ini, umat Katolik di Paroki Santo Yosep Fakfak diajak semakin menyadari besarnya kasih Allah serta memperbarui komitmen hidup sebagai pengikut Kristus hidup dalam kasih, pengorbanan, dan pengharapan, sambil menantikan sukacita kebangkitan Tuhan pada Paskah. (st/pr)
















Tinggalkan Balasan