Jakarta — Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran masih berada dalam situasi tegang tanpa tanda-tanda perkembangan berarti.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memberi isyarat bakal ada perkembangan pada Selasa lalu sempat menarik perhatian, namun tanpa diikuti penjelasan rinci.
Di tengah kondisi yang memanas ini, peran negara mediator dinilai akan semakin krusial. Pakistan disebut-sebut berpotensi menjadi penghubung komunikasi antara kedua pihak, terutama untuk menyampaikan pesan dan menjaga jalur diplomasi tetap terbuka.
Dari sisi militer, tekanan terhadap Teheran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. AS diperkirakan bakal terus memperkuat pengawasan di Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi energi global, sembari memantau aktivitas maritim Iran sebagai bagian dari strategi tekanan.
Sementara itu, belum ada kepastian kapan proses negosiasi akan kembali dilanjutkan. Para mediator kemungkinan akan terus mendorong kedua pihak agar tetap terlibat dalam dialog, meskipun situasi masih sarat dengan kehati-hatian.
Fokus utama diplomasi saat ini adalah menjaga gencatan senjata tetap bertahan. Upaya ini dinilai penting agar ketegangan tidak kembali meledak dan memicu konflik terbuka antara kedua negara.
Upaya diplomasi antara AS dan Iran kembali tersendat setelah Trump membatalkan rencana kunjungan pejabat AS ke Pakistan pada Sabtu, tak lama setelah delegasi Iran meninggalkan Islamabad.
Trump menilai pengiriman utusan hanya akan membuang waktu. Ia menyebut utusan khusus Steve Witkoff dan menantunya Jared Kushner tidak perlu berangkat jika belum ada kepastian hasil.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi telah bertemu dengan pihak Pakistan selaku mediator. Ia mengaku sudah menyampaikan posisi resmi Iran terkait upaya mengakhiri konflik, namun masih meragukan keseriusan Washington.
“Ia menyebut Iran telah menyampaikan posisinya untuk mengakhiri perang, tetapi belum melihat apakah AS benar-benar serius dalam diplomasi,” ujar Abbas Aragchi, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (26/4/2026).
Meskipun gencatan senjata telah diperpanjang dari batas awal 22 April, pembicaraan belum menunjukkan kemajuan berarti. Ketegangan masih tinggi, terutama di kawasan Selat Hormuz jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. (bn/pr)
Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di:















Tinggalkan Balasan