Fakfak – Ketegangan antara ojek pangkalan dan layanan transportasi daring Maxim di Fakfak kembali mencuat. Di tengah panasnya perdebatan, suara warga mulai menyeruak di ruang publik.
Salah satunya datang dari Irfan Garogas, warga Fakfak, yang menyampaikan kritik tajam terhadap aksi penolakan terhadap kehadiran Maxim.
Lewat akun media sosialnya, Irfan menilai demo menolak kehadiran Maxim bukanlah jalan yang bijak.
“Jangan goblok. Harusnya kalau anggap diri lebih hebat, tidak seharusnya demo tolak Maxim,” tulis Irfan dalam unggahan yang mendapat banyak tanggapan dari warganet.
Ia menegaskan, baik ojek pangkalan maupun Maxim adalah penyedia jasa transportasi yang sama-sama sah.
Menurutnya, masyarakat berhak memilih layanan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Selama ini kami pakai ojek pangkalan, namun setelah muncul Maxim, sebagian kami beralih ke Maxim, dan sebagian lagi tetap pakai ojek pangkalan. Artinya ini semua sah-sah saja,” katanya.
Irfan juga menyoroti keunggulan layanan Maxim yang menawarkan harga pasti dan sistem transaksi yang tercatat. Dua hal itu, menurutnya, menjadi alasan sebagian masyarakat beralih ke layanan daring tersebut.
Namun, ia menegaskan, fakta di lapangan menunjukkan ojek pangkalan masih banyak digunakan.
“Kenyataan di lapangan, warga masih banyak yang pakai ojek pangkalan. Terus kenapa harus tegang?” ujarnya.
Pernyataan Irfan mencerminkan kegelisahan sebagian warga atas konflik yang seharusnya tidak perlu terjadi. Di tengah upaya mencari nafkah secara halal, ia mengajak semua pihak untuk saling menghargai dan tidak saling menjatuhkan.
Di sisi lain, Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Fakfak didesak segera menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Perhubungan, pihak ojek konvensional, manajemen Maxim, serta aparat penegak hukum untuk mencari solusi yang adil dan berimbang.
(Reporter/Editor: Salmon Teriraun)
Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di:















Tinggalkan Balasan