
Saumlaki — Kain Bakan dan Tais Pepete, ikon budaya Kepulauan Tanimbar, kini mendapatkan ruang strategis dalam kurikulum sekolah melalui pelajaran muatan lokal menenun. Langkah ini ditempuh sebagai upaya sistematis menjaga warisan leluhur dari ancaman kepunahan di tengah arus globalisasi.
Tenun ikat khas Tanimbar bukan sekadar kain sandang. Setiap motif mulai dari anggrek, burung, ular, hingga buaya memuat filosofi kehidupan masyarakat setempat. Bahkan, kemampuan menenun kerap dipandang sebagai salah satu indikator kematangan pranikah bagi perempuan muda.
Selama ini, pewarisan keterampilan tersebut berlangsung melalui tiga jalur utama, yakni keluarga, sekolah, dan balai desa. Namun, jumlah pengrajin terus menyusut seiring pergeseran orientasi masyarakat yang lebih menitikberatkan aspek ekonomi praktis.
Kepala sekolah salah satu SMP di Saumlaki, Maria Letelay, mengatakan bahwa penguatan muatan lokal merupakan bentuk tanggung jawab pendidikan dalam merawat identitas daerah.
“Kami tidak ingin anak-anak hanya mengenal budaya melalui cerita. Mereka harus mempraktikkan langsung agar memahami makna filosofis dan nilai ekonominya,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Program pembelajaran dirancang bertahap, dimulai dari proses menggulung benang, mengikat motif, pencelupan dengan pewarna alami, hingga teknik tenun dasar. Siswa kelas menengah diberi kesempatan menghasilkan kain sederhana sebagai luaran pembelajaran. Dengan model input-proses-output, kegiatan berlangsung selama 40 jam pelajaran melalui kolaborasi sekolah dan pemerintah desa. “Targetnya bukan hanya keterampilan, tetapi juga menumbuhkan jiwa kewirausahaan berbasis budaya lokal,” kata Letelay.
Meski demikian, pelaksanaan program tidak lepas dari tantangan. Minat siswa dinilai masih rendah karena proses menenun membutuhkan ketekunan dan waktu panjang. Selain itu, keterbatasan alat tenun, kelangkaan bahan baku, serta minimnya dukungan teknologi menjadi kendala tersendiri di wilayah kepulauan yang relatif terpencil.
Pengrajin senior Tais Pepete, Elisabet Ririhena, menilai perlu ada pendekatan kreatif untuk menarik generasi muda.
“Anak-anak sekarang perlu melihat bahwa tenun bukan hanya tradisi, tetapi juga peluang ekonomi. Jika dikemas menarik dan dipasarkan dengan baik, nilainya bisa tinggi,” tuturnya.
Sejumlah solusi pun dirumuskan, antara lain penerapan metode pembelajaran interaktif seperti permainan edukatif dan proyek motif berbasis cerita rakyat, pemberian penghargaan serta pameran karya sebagai ajang ekonomi kreatif, hingga pembentukan ekstrakurikuler khusus tenun.
Keterlibatan orang tua melalui kunjungan ke rumah pengrajin juga diharapkan memperkuat dukungan moral bagi siswa.
Integrasi tenun Tanimbar ke dalam berbagai mata pelajaran diharapkan menciptakan regenerasi budaya secara berkelanjutan. Upaya ini tak sekadar menjaga tradisi, tetapi juga membuka peluang penguatan ekonomi lokal berbasis kearifan leluhur. (bn/pr)
Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di:
















Tinggalkan Balasan