Fakfak – Panitia Perayaan Paskah dan Pentakosta 2026 Jemaat GKI Imanuel Fakfak Rayon Kalvari mematangkan persiapan perayaan keagamaan tahunan tersebut. Pemaparan rangkaian kegiatan disampaikan dalam pertemuan bersama Majelis Jemaat yang berlangsung di Aula Jemaat GKI Immanuel Fakfak, Jumat (27/2/2026) sore.

Sebelum pemaparan agenda, Ketua Majelis Jemaat GKI Imanuel Fakfak, Pendeta Frangki Paksoal, S.Th, didampingi Sekretaris Majelis Jemaat Yulinda Talla, Wakil Sekretaris Frans Rumere, dan Bendahara Ricardo Hutasoit memberikan arahan kepada panitia.

Pendeta Frangki menekankan pentingnya perayaan yang tidak hanya seremonial, tetapi juga menghadirkan makna kebangkitan Kristus dalam kehidupan persekutuan jemaat sehari-hari.

“Kita sedang mempersiapkan perayaan kebangkitan Tuhan. Ini momentum bagi kita untuk menghidupi tema pembaruan kemanusiaan dalam Kristus. Persiapan teknis penting, tetapi kesadaran spiritual dalam setiap kegiatan harus menjadi fondasi utama,” ujar Pendeta Frangki.

Sekretaris Majelis Jemaat, Yulinda Talla, menambahkan arahan terkait tata kelola administrasi dan koordinasi lintas rayon.

“Setiap kegiatan harus terdokumentasi dengan baik. Koordinasi antara seksi acara, para koordinator rayon, dan Majelis Jemaat perlu terus diperkuat agar tidak terjadi tumpang tindih jadwal maupun kesalahpahaman di lapangan,” jelasnya.

Ketua Panitia Perayaan Paskah dan Pentakosta 2026, Petrus Lomo, dalam kesempatan yang sama menyampaikan arahan kepada seluruh anggota panitia. Ia menekankan bahwa keberhasilan perayaan ini bergantung pada partisipasi aktif dan kerja sama semua pihak, baik panitia, majelis jemaat, maupun seluruh warga jemaat di masing-masing rayon.

“Kami mengajak semua elemen jemaat untuk terlibat aktif. Perayaan Paskah dan Pentakosta bukan hanya milik panitia atau majelis, tetapi milik kita bersama. Karena itu, mari kita bekerja dengan hati, saling mendukung, dan menjaga semangat kebersamaan,” ujar Petrus Lomo.

Ia juga mengingatkan pentingnya komitmen terhadap jadwal yang telah disepakati. “Semua agenda sudah tersusun dan disosialisasikan. Saya minta setiap seksi dan koordinator rayon bertanggung jawab penuh pada tugasnya. Jika ada kendala, segera komunikasikan agar cepat dicarikan solusi,” tegasnya.

Koordinator Seksi Acara, Johanis Toisuta, memaparkan seluruh agenda yang telah disusun melalui koordinasi intensif dengan para koordinator rayon dan pelayan firman. Jadwal kegiatan, termasuk pertukaran pelayanan ibadah dan kunjungan antar rayon, tercantum dalam surat pemberitahuan bernomor 03/Panpel-PP/II/RK/2026 yang telah didistribusikan kepada Majelis Jemaat.

“Kami sudah mencoba menyepakati jadwal kunjungan ibadah bersama koordinator rayon. Semua sudah tertera dalam surat pemberitahuan kegiatan,” ujar Johanis Toisuta yang akrab disapa John.

John mengungkapkan, rangkaian kegiatan akan berlangsung pada 2–19 Maret 2026. Adapun pembukaan resmi atau launching kegiatan dijadwalkan pada Minggu, 1 Maret 2026, bertepatan dengan ibadah jemaat.

Momentum pembukaan akan ditandai dengan pengembalian piala bergilir dari Rayon Efata kepada Majelis Jemaat, yang selanjutnya diserahkan kepada panitia sebagai simbol dimulainya rangkaian perlombaan dan kegiatan Paskah.

Seluruh ibadah rayon dijadwalkan dimulai pukul 17.00 WIT. Majelis Jemaat yang namanya tercantum dalam jadwal diminta berkoordinasi dengan koordinator rayon masing-masing guna memastikan kesiapan tuan rumah dan pelayan ibadah.

John menegaskan, pertukaran pelayanan ibadah tetap mengacu pada bacaan firman Minggu ke-3, ke-4, dan ke-5, dengan penekanan tematik yang selaras dengan tema sentral Paskah 2026 dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), yakni 2 Korintus 5:17: “Kristus bangkit, membarui kemanusiaan kita.”

Pada Minggu ketiga, khotbah akan menyoroti eksistensi Paskah dalam kehidupan Persekutuan Wanita (PW), Keluarga, dan Persekutuan Kaum Bapak (PKB). Minggu keempat menekankan peran Paskah dalam tanggung jawab pelayanan gereja, sedangkan Minggu kelima membahas makna Paskah dalam kehidupan persekutuan dan implementasinya dalam pelayanan jemaat.

Awalnya, panitia memutuskan untuk tidak menggelar pawai. Namun, setelah berdiskusi dengan Majelis Jemaat, kegiatan tersebut akhirnya dimasukkan kembali dalam agenda. Pawai Paskah akan menggunakan lampu lilin atau lampu hias sederhana yang dipersiapkan warga jemaat. Panitia menyebut biaya perlengkapan relatif terjangkau, sekitar Rp 8.000 per unit.

“Yang dinilai bukan sekadar banyaknya lampu, tetapi kreativitas dan modelnya. Ada kategori favorit dan teladan 2026,” jelas John.

Rute pawai direncanakan dimulai dari gereja menuju arah Kediaman Kapolres, Kepala Kejaksaan Negeri Fakfak, Kodim, kemudian kembali ke titik awal dan dilanjutkan dengan ibadah Paskah pukul 06.00 WIT. Seusai ibadah, panitia akan mengumumkan peserta favorit dan teladan.

Selain pawai, panitia menggelar Festival Penataan Taman Paskah antar rayon pada 6–13 Maret 2026. Setiap rayon diminta mulai menata taman sejak 6 Maret, dengan penilaian dilakukan setelah 13 Maret.

Kerja bakti bersama di lingkungan gereja dijadwalkan pada Sabtu, 14 Maret 2026, pukul 15.00 WIT hingga selesai. Tanggal tersebut dipilih agar tidak berbenturan dengan agenda persiapan internal Majelis Jemaat maupun kegiatan anak-anak sekolah minggu.

Panitia juga merancang Focus Group Discussion (FGD) bertema peningkatan sinergitas dan interdependensi pelayanan jemaat pada Sabtu, 4 April 2026, pukul 09.00–11.30 WIT di gedung Gereja Imanuel. Kegiatan ini khusus diikuti Majelis Jemaat dan seluruh badan pelayanan unsur.

Pada malam harinya, akan digelar kegiatan “Berpacu dalam Kidung” dan personalia mulai pukul 20.00 WIT hingga 04.00 WIT dini hari, disertai pemutaran film kesaksian dan agenda rohani lainnya.

Dalam pelaksanaan ibadah pertukaran, panitia mengakui adanya keterbatasan jumlah pendeta. Dari tiga pendeta yang tersedia, satu di antaranya berhalangan karena jadwal pelayanan lain. Panitia telah berkoordinasi sehingga pelayanan turut dibantu oleh Pendeta Maria F. Walalayo, S.Si. Namun, untuk ibadah PW dan PKB, sebagian besar akan dipimpin oleh Majelis Jemaat.

“Kita punya keterbatasan, termasuk biaya transportasi jika semua menggunakan tenaga pendeta. Karena itu, Majelis Jemaat akan mengambil peran lebih besar,” ungkap John.

Menanggapi hal tersebut, Majelis Jemaat mengingatkan setiap pelayanan ibadah yang melibatkan pelayan dari luar jemaat wajib diketahui dan dilaporkan kepada Majelis, sesuai aturan gereja.

“Aturan kita jelas. Pelayanan ibadah dari luar harus sepengetahuan Majelis Jemaat. Kalau tidak, itu tidak diperbolehkan,” tegas Pendeta Frangki.

Dengan tema pembaruan kemanusiaan dalam Kristus, Jemaat GKI Imanuel Fakfak diharapkan tidak hanya merayakan Paskah secara seremonial, tetapi juga menghadirkan makna kebangkitan dalam kehidupan persekutuan dan pelayanan sehari-hari. (st/pr)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: