Oleh : Selly kareth (Anggota MRP Papua Barat Daya)
Di Tanah Papua, perdebatan sosial dan politik sering berlangsung keras di ruang publik. Namun di balik hiruk-pikuk itu, ada satu pola yang kerap luput dari perhatian: suara perempuan yang perlahan dibungkam melalui penggiringan opini. Cara ini tidak terlihat kasar, tidak pula selalu terang-terangan, tetapi justru karena sifatnya yang halus, dampaknya menjadi lebih kuat dan sulit disadari.
Penggiringan opini bekerja dengan membentuk persepsi publik secara perlahan. Fakta dapat dipelintir, pernyataan dipotong dari konteksnya, lalu disebarkan kembali dalam narasi yang berbeda. Ketika mekanisme ini berlangsung terus-menerus, publik tidak lagi menilai seseorang berdasarkan substansi gagasan, melainkan berdasarkan citra yang telah dibentuk oleh arus informasi tersebut.
Perempuan Papua sering menjadi sasaran empuk dalam praktik ini, terutama ketika mereka mulai tampil di ruang publik dan menyuarakan persoalan masyarakat. Kritik yang disampaikan sering kali tidak ditanggapi secara argumentatif, tetapi justru dibalas dengan serangan terhadap pribadi, integritas, atau latar belakang mereka. Dalam situasi seperti ini, yang diserang bukan lagi gagasan, melainkan figur yang membawa gagasan itu sendiri.
Kehadiran figur seperti Selly Kareth menjadi salah satu contoh bagaimana perempuan adat yang berada dalam ruang kelembagaan menghadapi dinamika tersebut. Posisi yang seharusnya menjadi jembatan aspirasi masyarakat justru kerap ditempatkan dalam pusaran opini yang tidak selalu berimbang. Narasi yang berkembang sering kali lebih menyoroti kontroversi dibandingkan substansi suara yang disampaikan.
Praktik semacam ini pada akhirnya tidak hanya merugikan individu, tetapi juga berdampak lebih luas terhadap ruang partisipasi perempuan Papua. Ketika perempuan yang berani bersuara terus-menerus dihadapkan pada arus opini yang meragukan atau mendiskreditkan, maka pesan yang tersampaikan kepada publik menjadi jelas: berbicara membawa risiko besar.
Padahal, demokrasi yang sehat justru membutuhkan keberanian berbagai pihak untuk menyampaikan pandangan secara terbuka, termasuk dari perempuan adat yang selama ini memiliki kedekatan langsung dengan realitas masyarakat di akar rumput. Membungkam suara mereka baik secara langsung maupun melalui penggiringan opini—pada akhirnya hanya mempersempit ruang dialog dan memperlemah upaya mencari solusi bersama.
Karena itu, penting bagi publik untuk lebih kritis dalam membaca arus informasi. Opini yang beredar tidak selalu lahir dari fakta yang utuh. Di baliknya bisa saja terdapat kepentingan, strategi komunikasi, atau bahkan upaya sistematis untuk membentuk persepsi tertentu.
Jika penggiringan opini terus dibiarkan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi seseorang. Yang ikut tergerus adalah ruang demokrasi, kepercayaan publik, dan kesempatan bagi perempuan Papua untuk berperan lebih besar dalam menentukan masa depan tanahnya sendiri. (–)
Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di:
















Tinggalkan Balasan