Fakfak – Persatuan sejati hanya dapat terwujud di dalam Kristus, bukan melalui kekuatan atau usaha manusia semata.
Hal tersebut menjadi inti khotbah Pendeta Frangky Paksoal, S.Th dalam ibadah Minggu subuh yang digelar di Gereja Kristen Injili (GKI) Imanuel Fakfak, Minggu (26/4/2026).
Ibadah yang dihadiri puluhan jemaat itu berlangsung khidmat, penuh sukacita, dan terasa hangat suasana persekutuan antarumat.
Mengangkat bacaan Efesus 2:11–22 dengan tema “Dipersatukan di dalam Kristus”, Pendeta Frangky membuka khotbahnya melalui sebuah ilustrasi sederhana namun menusuk kesadaran.
Ia mengibaratkan kehidupan manusia sebelum mengenal Kristus seperti perahu kecil yang terombang-ambing di tengah samudra luas tanpa arah.
“Kita sering merasa kuat dan bebas, padahal sebenarnya kita sedang tersesat. Hidup tanpa arah, hanya mengikuti arus keadaan, dan menunggu sampai kekuatan kita habis,” ujarnya di hadapan jemaat.
Pendeta yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Jemaat GKI Imanuel Fakfak itu menjelaskan, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus hendak menegaskan kondisi nyata orang-orang non-Yahudi yang kala itu tersisih, dianggap sebagai pihak luar, dan hidup tanpa pengharapan.
“Paulus berkata, ‘Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus…’ Yang dahulu jauh, kini menjadi dekat. Bukan karena usaha manusia, tetapi karena kasih karunia melalui pengorbanan Kristus,” tegasnya.
Menurut Frangky, Kristus adalah sumber damai sejahtera yang sejati. Damai yang dimaksud bukan sekadar perasaan tenang, melainkan pribadi Kristus sendiri.
Melalui pengorbanan di kayu salib, Kristus tidak hanya memulihkan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga merobohkan tembok pemisah antarmanusia.
“Kristus tidak menambal tembok itu, tetapi menghancurkannya. Ia mematikan permusuhan dan menciptakan satu manusia baru, satu kesatuan di dalam Dia,” jelasnya dengan tegas.
Lebih jauh, ia menguraikan setiap orang percaya kini bukan lagi orang asing atau pendatang, melainkan kawan sewarga dan anggota keluarga Allah.
Bahkan, umat percaya diibaratkan sebagai satu bangunan rohani, dengan Kristus sebagai batu penjuru, para rasul dan nabi sebagai dasar, dan seluruh orang percaya menjadi bagian dari bangunan tersebut.
“Artinya, Allah tidak hanya menyelamatkan kita secara pribadi, tetapi juga menyatukan kita sebagai satu tubuh dan satu keluarga di dalam Kristus,” paparnya.
Menghadapkan firman pada realitas kekinian, Pendeta Frangky mengingatkan tembok pemisah masih kerap muncul dalam bentuk berbeda, seperti perbedaan suku, status sosial, latar belakang, hingga silang pendapat. Ia menyoroti kecenderungan jemaat memberi label “ini orang kita” dan “itu bukan orang kita”.
“Dari situ muncul jarak, lalu dingin, dan akhirnya permusuhan. Padahal kita semua merindukan damai,” ujarnya.
Ia menegaskan setiap tindakan menyimpan dendam, menolak berdamai, atau memandang rendah sesama sama saja dengan membangun kembali tembok yang telah dihancurkan oleh Kristus.
“Kalau Kristus sudah merobohkan tembok itu, mengapa kita membangunnya kembali? Itu berarti kita berjalan berlawanan dengan kehendak-Nya,” katanya.
Dalam penjelasannya, Frangky juga meluruskan kesatuan tidak berarti keseragaman. Perbedaan tetap ada dan merupakan bagian dari kehidupan, namun semua perbedaan itu dipersatukan dalam kasih Kristus.
“Ibarat sebuah bangunan, batu-batunya berbeda bentuk dan ukuran, tetapi semuanya disusun menjadi satu rumah yang kokoh. Demikian juga kita dipanggil untuk hidup sehati dalam kasih,” ungkapnya.
Mengakhiri khotbahnya, Pendeta Frangky mengajak jemaat melakukan refleksi pribadi dan mengambil langkah nyata dalam membangun perdamaian.
Ia mendorong jemaat untuk mulai mengampuni, membuka hati, dan meruntuhkan tembok-tembok pemisah yang masih tersisa, baik dalam keluarga, persekutuan, maupun kehidupan sosial.
“Mungkin masih ada luka, masih ada jarak, tetapi firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk mulai dari diri sendiri. Karena di dalam Kristus, kita bukan lagi orang asing, melainkan satu keluarga Allah,” pungkasnya.
“Mari kita serahkan semuanya kepada Kristus. Biarlah Dia yang meruntuhkan tembok itu, supaya hidup kita benar-benar mencerminkan bahwa kita telah dipersatukan di dalam Kristus. Amin.” (salmon teriraun)
Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di:















Tinggalkan Balasan