Fakfak – “Generasi ini bukan hanya saksi, tapi aktor utama yang menentukan masa depan bangsa,” tegas Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, di hadapan ratusan mahasiswa baru Politeknik Negeri Fakfak (Polinef).
Kalimat itu membuka kuliah umumnya dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025 yang digelar di kampus Polinef, Senin (8/9/2025).
Dengan semangat yang menggebu, Samaun mengajak mahasiswa menyiapkan diri menghadapi perubahan besar yang dibawa era digital dan revolusi industri 4.0. “Tahun 2045 Indonesia akan merayakan 100 tahun kemerdekaan. Kita sebut itu sebagai Generasi Emas Indonesia. Nah, kalian inilah aktornya,” ujarnya.
Fenomena Generasi dan Tantangan Baru
Samaun memulai materinya dengan membahas fenomena siklus generasi. Ia menjelaskan, kehidupan manusia berjalan dalam siklus panjang yang melahirkan generasi-generasi baru dengan karakter berbeda.
“Dalam ilmu sosial, kita mengenal istilah generasi. Ada Baby Boomers (1946–1964), Generasi X (1965–1980), Generasi Y atau milenial (1981–1996), dan sekarang Generasi Z yang lahir 1997–2012. Mahasiswa Polinef hari ini sebagian besar masuk Generasi Z,” paparnya.
Menurutnya, Generasi Z memiliki ciri khas: tumbuh di tengah derasnya arus digital, terbuka terhadap informasi, dan cepat beradaptasi. “Kalian lahir di era gawai. Dunia ada di genggaman tangan. Semua informasi mudah diakses, tapi ini sekaligus peluang dan tantangan,” kata Samaun.
Era Digital: Peluang Besar, Tantangan Nyata
Bupati Fakfak menekankan, perkembangan teknologi mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan berinteraksi. Revolusi industri 4.0 ditandai integrasi dunia fisik, digital, dan biologis melalui internet, kecerdasan buatan, dan big data.
“Handphone yang kalian pegang hari ini bisa melakukan apa saja: komunikasi, transaksi, belajar. Dunia benar-benar di genggaman. Tapi, jangan lupa, arus informasi tidak semua benar. Ada hoaks, ada provokasi,” ujarnya mengingatkan.
Samaun memuji mahasiswa Fakfak yang tidak terjebak isu negatif. “Saya apresiasi Polinef. Mahasiswa kita tidak ikut-ikutan demo anarkis seperti di kota lain. Ini bukti kalian cerdas dan mampu berpikir jernih,” tegasnya.
Lima Bekal Penting untuk Mahasiswa
Dalam kuliahnya, Samaun merinci lima langkah strategis yang harus ditempuh mahasiswa untuk bertahan dan unggul di era digital:
- Tingkatkan literasi digital – Pahami dan gunakan informasi secara bijak.
- Kuasi soft skill – Komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan pemecahan masalah.
- Perkuat hard skill – Teknologi, analisis data, desain digital, dan keahlian sesuai jurusan.
- Bangun mental pembelajar sepanjang hayat – Karena teknologi terus berubah.
- Jaga karakter dan integritas – Sertakan nilai-nilai lokal agar teknologi bermanfaat bagi masyarakat.
“Kalau lima hal ini kalian kuasai, kalian tidak hanya siap bersaing, tapi juga jadi agen perubahan untuk bangsa,” tandasnya.
Fakfak Punya Potensi Besar
Samaun juga menyoroti peluang ekonomi yang sedang mengintip Kabupaten Fakfak. Dalam waktu dekat, sebuah pabrik pupuk akan dibangun di daerah ini, membuka lapangan kerja ribuan orang.
“Belum lagi sektor migas. Fakfak punya dua sumur gas besar. Salah satunya terbesar di Asia Tenggara. Ini peluang besar, dan saya ingin Polinef menyiapkan SDM yang siap masuk ke industri ini,” katanya.
Bupati Fakfak bahkan mengungkap rencana strategis untuk menarik investasi migas agar tidak lagi terpusat di Sorong. Salah satu langkahnya adalah memperpanjang dan melebarkan landasan Bandara Siboru agar bisa melayani pesawat berbadan besar.
“Selama ini penerbangan charter BP LNG Tangguh semua lewat Sorong. Kita harus tarik aktivitas itu ke Fakfak. Kalau bandara siap, ekonomi kita akan bergerak cepat,” jelasnya.
Transformasi Pendidikan Vokasi
Samaun menegaskan, perubahan besar ini menuntut transformasi pendidikan. “Mahasiswa tidak lagi objek pasif yang hanya menerima ilmu. Harus aktif mencari, mengelola, dan memanfaatkan informasi. Dosen pun berubah peran: bukan sekadar pengajar, tapi fasilitator, motivator, dan mitra belajar,” ujarnya.
Politeknik Negeri Fakfak, menurutnya, memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan ini. Sebagai perguruan tinggi vokasi, Polinef harus melahirkan lulusan yang inovatif, adaptif, dan berdaya saing global.
“Keberhasilan Polinef bukan diukur dari jumlah lulusannya saja, tapi dari kontribusinya pada pembangunan daerah. Polinef harus menjadi pusat inovasi yang menghubungkan potensi lokal dengan teknologi modern,” tegasnya.
Indonesia Emas 2045, Mulai dari Sini
Menutup kuliah umum, Samaun mengingatkan mahasiswa baru bahwa masa depan Indonesia ada di tangan mereka. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan. Itu tujuan besar, dan kalian adalah aktor utamanya. Siapkan diri dengan ilmu, keterampilan, dan karakter kuat,” ujarnya disambut tepuk tangan mahasiswa.
Ia pun memberi pesan inspiratif: “Jangan puas hanya jadi penonton. Jadilah pelaku perubahan. Fakfak menunggu kontribusi kalian, Papua Barat menunggu kalian, dan Indonesia menaruh harapan besar pada kalian.” (st/pr)
Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di:












Tinggalkan Balasan