Jakarta — Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 yang dinanti jutaan warga Indonesia dibayangi ancaman cuaca ekstrem.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah seiring puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung pada Desember 2025 hingga Januari 2026.
BMKG mencatat wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Papua Selatan, serta sebagian besar Kalimantan.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga gelombang tinggi, terutama pada periode meningkatnya mobilitas masyarakat saat libur akhir tahun. “Atmosfer di atas Indonesia sedang ‘padat’ oleh berbagai fenomena angin yang memicu cuaca ekstrem dan laut bergejolak,” tulis BMKG melalui akun resminya.
Di sisi lain, Kementerian Perhubungan memproyeksikan lonjakan signifikan perjalanan masyarakat. Sebanyak 119,5 juta orang atau 42,01 persen penduduk Indonesia diperkirakan melakukan perjalanan selama libur Natal dan Tahun Baru, meningkat 2,71 persen dibanding tahun sebelumnya.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut Pulau Jawa masih menjadi tujuan utama, dengan Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur sebagai provinsi dengan pergerakan tertinggi, disusul Yogyakarta, Bandung, Malang, Bogor, dan Denpasar.
Meningkatnya mobilitas tersebut beriringan dengan peringatan ancaman bencana hidrometeorologis.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hadi Wijaya mengingatkan potensi banjir bandang dan longsor selama periode Natal dan Tahun Baru, terutama karena bertepatan dengan puncak intensitas hujan. BMKG memetakan tiga fase cuaca, yakni hujan lebat pada 15–22 Desember 2025, penurunan intensitas pada 22–29 Desember, dan kembali meningkat pada 29 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin menilai meningkatnya frekuensi bibit siklon tropis di sekitar Indonesia tidak terlepas dari dampak perubahan iklim.
Menurut dia, kenaikan suhu global berkontribusi terhadap anomali cuaca dan peningkatan intensitas badai.
“Sejak 2021, Indonesia tidak benar-benar bebas dari badai tropis. Dampaknya nyata dalam bentuk hujan ekstrem, angin kencang, dan gelombang tinggi,” ujarnya.
Erma menyoroti lemahnya mitigasi dan pemanfaatan sistem peringatan dini sebagai faktor yang memperparah dampak bencana.
Padahal, Indonesia memiliki perangkat pemantauan seperti Sadewa dan Kamajaya yang dapat dikembangkan untuk prediksi jangka pendek maupun panjang.
“Jika peringatan dini berjalan dan mitigasi dilakukan sejak awal, korban jiwa dan kerusakan dapat ditekan,” katanya.
Dengan meningkatnya risiko cuaca ekstrem dan tingginya pergerakan masyarakat, pemerintah dan warga diimbau meningkatkan kewaspadaan.
Libur Natal dan Tahun Baru, selain menjadi momen perayaan, juga semestinya diiringi kesadaran kolektif terhadap kondisi alam serta solidaritas bagi masyarakat yang terdampak bencana. (ds/pr)





Tinggalkan Balasan