Fakfak — Ibadah Minggu yang menandai Minggu Adven III berlangsung khidmat di Gereja Kristen Injili (GKI) Jemaat Imanuel Fakfak, Minggu (14/12/2025) pagi.
Ibadah dipimpin Pendeta Frangki Paksoal, S.Th., dengan tema khotbah “Yohanes Pembaptis dan Kedatangan Mesias” yang diambil dari Injil Markus 1:1–8.
Dalam khotbahnya, Pendeta Frangki menegaskan, suka cita Adven sejati tidak bergantung pada situasi hidup yang nyaman, melainkan lahir dari keyakinan bahwa Allah setia hadir dan bekerja, bahkan di tengah kesulitan.
“Suka cita Adven bukan karena hidup selalu baik-baik saja, melainkan karena Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya,” ujar Frangki di hadapan jemaat.
Ia mengingatkan, Injil Markus ditulis dalam konteks penderitaan jemaat mula-mula yang hidup dalam tekanan, penganiayaan, dan ketidakpastian.
Dalam situasi itulah Markus membuka Injilnya dengan pernyataan tegas tentang Yesus Kristus sebagai Anak Allah, pusat kabar baik dan sumber pengharapan.
Menariknya, sebelum menghadirkan pelayanan Yesus, Markus lebih dahulu menampilkan sosok Yohanes Pembaptis. Hal ini, menurut Frangki, menunjukkan bahwa karya keselamatan Allah selalu diawali dengan persiapan hati umat-Nya.
“Allah tidak bertindak sembarangan. Ia mempersiapkan hati manusia agar siap menyambut kehadiran Mesias,” katanya.
Pendeta Frangki menjelaskan, Yohanes Pembaptis bukan pusat perhatian, melainkan “suara yang berseru di padang gurun” untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan.
Yohanes, kata Pendeta Frangky, mengajarkan tugas orang percaya bukan meninggikan diri atau figur manusia, melainkan menunjuk kepada Kristus sebagai pusat iman.
Pelayanan Yohanes di padang gurun juga mengandung makna simbolis. Padang gurun dipahami sebagai ruang perenungan, pertobatan, dan pembentukan iman. Di tempat itulah, Allah memurnikan umat-Nya dan mengajar mereka untuk sepenuhnya bergantung kepada-Nya.
Seruan Yohanes untuk bertobat dan dibaptis, lanjut Pendeta Frangki, bukanlah ajakan sesaat, melainkan panggilan kepada pertobatan sejati yang ditandai dengan perubahan hidup dari hidup yang berpusat pada diri sendiri menjadi hidup yang berpusat pada kehendak Allah.
Baptisan di Sungai Yordan, tempat bangsa Israel dahulu memasuki Tanah Perjanjian, dimaknai sebagai tanda bahwa Allah sedang memulai karya keselamatan yang baru.
Kehidupan pribadi Yohanes Pembaptis, dengan gaya hidup sederhana dan jauh dari kenyamanan, menjadi kesaksian bahwa pertobatan sejati tidak berhenti pada kata-kata, tetapi tampak dalam sikap dan tindakan.
Yohanes dengan rendah hati mengakui bahwa dirinya tidak layak membuka tali kasut Yesus, seraya menegaskan bahwa tugasnya hanyalah membuka jalan.
“Ia membaptis dengan air, tetapi Yesus membaptis dengan Roh Kudus. Ini menunjukkan pembaruan yang lebih dalam, pembaruan hati oleh kuasa Allah,” tutur Frangki.
Mengakhiri khotbahnya, Pendeta Frangki mengajak jemaat GKI Imanuel Fakfak untuk memaknai Minggu Adven III sebagai momen refleksi diri. Di tengah berbagai tantangan hidup, baik ekonomi, keluarga, maupun pergumulan Rohani, umat diajak untuk jujur menilai kesiapan hati dalam menyambut Kristus.
“Tuhan tidak mencari perayaan yang meriah, melainkan hati yang mau bertobat dan hidup yang diarahkan kembali kepada-Nya,” ujarnya.
Ia menegaskan, suka cita sejati lahir ketika Kristus menjadi pusat kehidupan, sehingga iman tidak mudah goyah oleh keadaan. Dengan hati yang dibarui oleh Roh Kudus, umat diharapkan dapat menjadi saksi bahwa Tuhan sungguh hadir dan menyelamatkan. (st/pr)
Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di:





Tinggalkan Balasan