Fakfak – Ibadah Minggu pagi di Gereja Kristen Injili (GKI) Jemaat Imanuel Fakfak, Minggu (23/11/2025), berlangsung dalam suasana yang khidmat.
Ibadah kontekstual yang menggunakan bahasa daerah Fakfak ini kembali menegaskan identitas budaya setempat dalam liturgi GKI Di Tanah Papua.
Ibadah dipimpin Pendeta Frangki Paksoal, S.Th., dengan tema khotbah “Ketaatan Iman yang Membawa Kesembuhan” dari II Raja-Raja 5:1–27. Melalui kisah Naaman, seorang panglima Aram yang terkenal namun menderita penyakit kulit.
Pendeta Paksoal mengajak jemaat merenungkan, manusia sehebat apa pun tetap memiliki kelemahan dan membutuhkan pertolongan Tuhan.
“Segala kemuliaan Naaman terasa tidak berarti karena ia sakit. Kesembuhan yang ia cari justru datang melalui cara sederhana, lewat kesaksian seorang gadis kecil Israel,” ujarnya.
Menurut Pendeta Paksoal, Tuhan sering bekerja melalui hal-hal yang tidak terduga dan jauh dari bayangan manusia.
Pendeta Paksoal menekankan, ketaatan menjadi kunci kesembuhan Naaman. Walaupun awalnya marah dan merasa tidak dihargai karena Elisa tidak menemuinya secara langsung, Naaman akhirnya mengikuti perintah untuk mandi tujuh kali di Sungai Yordan, tindakan sederhana yang justru menghadirkan mukjizat.
“Tuhan bekerja melalui kesederhanaan, bukan melalui keistimewaan,” kata Pendeta Paksoal. “Naaman sembuh bukan hanya karena air Yordan, tetapi karena hatinya akhirnya taat.”
Dalam khotbahnya, Pendeta Paksoal juga menyoroti kondisi jemaat masa kini yang kerap menjauh dari persekutuan bukan karena tidak mau beribadah, tetapi karena kehilangan semangat rohani akibat pergumulan hidup.
Menjelang penutupan sejumlah pelayanan jemaat di akhir tahun 2025, ia mengajak seluruh umat kembali memberi ruang bagi Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendeta Paksoal mengingatkan jemaat tentang bahaya pelayanan yang dijalankan dengan motivasi pribadi, seperti yang ditunjukkan oleh Gehazi, pelayan Elisa, yang menerima hukuman Tuhan karena ketidakjujurannya.
“Gereja harus menjadi tempat di mana kebenaran dan kesungguhan dijunjung tinggi,” tegasnya.
Ia menutup khotbah dengan ajakan agar jemaat hidup dalam ketaatan yang memulihkan.
“Allah yang menyembuhkan Naaman adalah Allah yang sama yang memulihkan kita hari ini, esok, dan sampai Ia datang kembali,” jelasnya. (salmon teriraun)
Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di:






Tinggalkan Balasan