Fakfak – Jemaat GKI Imanuel Fakfak mengikuti ibadah Minggu dengan penuh khidmat, Minggu pagi, 4 Mei 2025, pukul 09.00 WIT.

Ibadah dipimpin oleh Pendeta FD. Maspaitela, S.Si., yang membawakan khotbah dengan tema sentral yang ditetapkan oleh Sinode GKI di Tanah Papua: “Kebangkitan Yesus dan Misi Rekonsiliasi” (Pemulihan hubungan yang rusak), berdasarkan bacaan Alkitab dari Yohanes 20:19–23.

Dalam khotbahnya, Pdt. Maspaitela menyampaikan, kebangkitan Kristus bukan sekadar bukti kuasa Allah atas maut, tetapi lebih daripada itu merupakan awal dari misi rekonsiliasi yang dipercayakan Tuhan kepada gereja-Nya.

“Dalam bacaan kita, Yesus bangkit dan menjumpai murid-murid-Nya yang sedang diliputi ketakutan,” jelasnya. “Kita membaca di Yohanes 20:19, bahwa ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu, murid-murid berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci karena takut kepada orang-orang Yahudi. Saat itulah Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka, lalu berkata: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’

Ia melanjutkan dengan mengutip Yohanes 20:25: “Maka kata murid-murid yang lain itu kepada Tomas: ‘Kami telah melihat Tuhan!’ Tetapi Tomas berkata kepada mereka: ‘Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu serta mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.’”

Pdt. Maspaitela menjelaskan bahwa ucapan “Damai sejahtera” dalam bahasa Ibrani dikenal sebagai Shalom. Kata ini bukan sekadar salam pembuka atau penutup, tetapi memiliki makna yang dalam yakni kesejahteraan lahir dan batin, relasi yang harmonis dengan Allah, dan hubungan yang baik dengan sesama. Shalom melambangkan kehidupan yang utuh dan tidak terbagi.

“Tuhan sudah terlebih dahulu mengampuni dan menebus dosa-dosa kita,” tegasnya. “Karena itu, kita pun dipanggil untuk mengampuni sesama dan melepaskan pengampunan kepada mereka yang menyakiti kita,” tambahnya.

Ia menegur sikap manusia yang kerap kali menahan pengampunan karena merasa diri tidak bersalah: “Kadang kita berkata, ‘Dia (orang lain) yang salah, biar dia yang datang minta maaf.’ Tapi ingat, Tuhan datang mencari kita yang bersalah, Tuhan tidak tahan gengsi. Sedangkan kita, manusia yang fana ini, justru sering gengsi dan enggan mengampuni.”

“Kita mungkin rajin berdoa ‘Bapa Kami’, yang berbunyi, ‘Ampunilah kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.’ Tapi jika kita sendiri tidak bisa mengampuni, maka sebenarnya kita sedang menipu Tuhan dalam doa-doa kita,” tutupnya.

Ibadah ditutup dengan doa syafaat dan pengutusan jemaat untuk menjadi pembawa damai dalam kehidupan sehari-hari, sebagai wujud nyata dari misi rekonsiliasi Kristus. (st/pr)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: