Fakfak — Jemaat Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (GKI) Imanuel Fakfak menggelar Ibadah Minggu Sengsara Ke-III Tuhan Yesus Kristus, Minggu (1/3/2026).

Ibadah tersebut dirangkaikan dengan pelantikan Panitia Sidang Jemaat Ke-26 Tahun 2026 serta Panitia Perayaan Natal Tahun 2026.

Ibadah yang dipimpin Pendeta Frangky Paksoal, S.Th, itu berlangsung khidmat dan dihadiri ratusan jemaat.

Suasana perenungan terasa kuat seiring gereja memasuki rangkaian Minggu Sengsara menjelang Paskah.

Dalam khotbahnya yang diambil dari bacaan Injil Markus 14:10–21, Pendeta Frangky mengangkat tema tentang kesetiaan kepada Kristus di tengah godaan pengkhianatan.

Ia menyoroti kisah Yudas Iskariot yang memilih menyerahkan Yesus, tepat di saat persiapan Perjamuan Paskah sedang dilakukan.

“Markus menempatkan kisah pengkhianatan Yudas berdampingan dengan persiapan Paskah untuk menunjukkan dua hal yang kontras: rencana keselamatan Allah yang berjalan tertib dan hati manusia yang memilih jalan gelap,” ujar Frangky dalam khotbahnya.

Menurut dia, Minggu Sengsara bukan sekadar mengenang penderitaan Kristus, melainkan juga menjadi momentum refleksi atas pilihan hati setiap orang percaya apakah tetap setia atau justru berpaling.

Pendeta Frangky menegaskan, pengkhianatan tidak lahir dari keputusan besar semata, melainkan dari pilihan-pilihan kecil yang keliru dan terus dibiarkan.

“Pengkhianatan lahir bukan dari langkah besar, tetapi dari pilihan kecil yang salah dan terus dibiarkan. Saat kesetiaan mulai ditukar dengan kenyamanan, di situlah awal pengkhianatan,” katanya.

Pendeta Frangky mengingatkan, Yudas bukan orang luar, melainkan satu dari dua belas murid yang hidup dekat dengan Yesus dan dipercaya memegang kas.

Hal itu, menurut Pendeta Frangky menjadi peringatan bahwa kedekatan secara fisik atau pelayanan tidak otomatis menjamin kesetiaan hati.

Namun di tengah rencana jahat manusia, Yesus tetap mengatur Perjamuan Paskah dengan tenang dan terperinci.

“Rencana manusia tidak pernah menggagalkan rencana keselamatan Allah. Kesetiaan Yesus kepada kehendak Bapa jauh lebih kuat daripada pengkhianatan manusia,” ujarnya.

Saat Yesus menyatakan salah seorang murid akan menyerahkan-Nya, para murid tidak saling menuduh, melainkan bertanya,

“Bukankah aku, ya Tuhan?” Frangky menilai pertanyaan itu sebagai bentuk introspeksi iman yang jujur.

“Kedekatan fisik dengan Yesus tidak menjamin kesetiaan batin. Pertanyaan ‘bukankah aku?’ seharusnya terus hidup dalam iman kita hari ini,” tuturnya.

Dalam ibadah yang sama, Pendeta Frangky juga melantik Panitia Sidang Jemaat Ke-26 Tahun 2026 dan Panitia Natal 2026.

Pendeta Frangky menegaskan, pelayanan sebagai panitia bukan sekadar tugas organisasi, melainkan panggilan untuk setia dalam perkara kecil.

“Menjadi panitia adalah panggilan untuk setia dalam hal kecil, setia dalam proses, meski tidak dilihat atau dipuji,” jelasnya. (st/pr)