Fakfak – Pendeta Frangki Paksoal, S.Th memimpin ibadah subuh di Gereja Kristen Injili (GKI) Jemaat Imanuel Fakfak, Minggu (23/3/2025), pukul 6.00 WIT.

Ibadah yang dihadiri jemaat setempat ini mengambil tema “Di Taman Getsemani” dengan pembacaan Firman Tuhan dari Matius 26:36-46.

Dalam khotbahnya, Pendeta Frangki mengajak jemaat untuk merenungkan pergumulan Yesus di saat-saat terakhir sebelum menghadapi kematian-Nya.

Pendeta Frangki menjelaskan, Taman Getsemani menjadi tempat di mana Yesus mengalami kesedihan dan ketakutan yang mendalam.

Di sana, Yesus berdoa dengan sungguh-sungguh, menghadapi beban murka Allah yang harus Dia tanggung demi menebus dosa manusia.

“Dosa bapak, ibu, saudara, dan saya, semua ditanggung oleh Yesus,” ujarnya.

Dalam ketakutan dan kesedihan yang begitu besar, Yesus berdoa tiga kali, memohon agar cawan penderitaan itu berlalu dari-Nya. Namun, Yesus tetap menyerahkan diri kepada kehendak Bapa dengan berkata, “Bukan seperti yang Aku kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Ini, menurut Pendeta Frangki, adalah bukti ketaatan Yesus yang sempurna kepada kehendak Bapa. Meskipun Yesus mengalami kelemahan, Dia memilih untuk taat sepenuhnya.

Ketaatan-Nya inilah yang membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia, termasuk kita semua.

“Yesus tahu bahwa jalan salib adalah kehendak Bapa untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Ketaatan-Nya menjadi teladan bagi kita dalam menjalani kehidupan iman,” tegasnya.

Pendeta Frangki mengingatkan jemaat bahwa sebagai orang yang telah diselamatkan, kita dipanggil untuk tunduk kepada kehendak Tuhan, meskipun hal itu terasa sulit.

“Terkadang kita menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, atau hal lainnya. Namun, apakah kita akan tetap setia seperti Yesus, atau justru mencari jalan pintas yang lebih mudah?” Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga komunikasi dengan Tuhan melalui doa.

“Seringkali kita sibuk dengan aktivitas dunia sehingga lupa berdoa. Kita hanya berdoa ketika menghadapi masalah besar. Padahal, doa dan komunikasi dengan Tuhan harus dijaga setiap waktu,” ujarnya.

Pendeta Frangki mengingatkan bahwa Yesus, meskipun menghadapi penderitaan yang luar biasa, tetap dekat dengan Bapa melalui doa. Sebaliknya, murid-murid-Nya justru tertidur, padahal Yesus meminta mereka untuk berdoa.

“Tanpa doa, kita akan mudah jatuh dalam kelemahan,” kata Pendeta Frangki.

Ia menjelaskan bahwa ketika kita tidak berdoa, kita membuka celah bagi kuasa kegelapan untuk mempengaruhi hidup kita.

“Kita menjadi lebih mudah marah, kecewa, atau menyerah dalam menghadapi pencobaan. Bahkan, kita bisa mengalami 3S: Stres, Strok, dan Stop, jika kita jauh dari Tuhan,” ungkapnya.

Pelajaran penting yang dapat diambil dari renungan ini adalah pentingnya kesetiaan dalam berdoa. “Tidak ada orang yang terhindar dari persoalan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bertahan dan keluar dari persoalan itu,” katanya.

Yesus, yang mengasihi murid-murid-Nya dengan kasih yang sempurna, juga mengasihi kita dengan cara yang sama. Kasih Yesus adalah kasih yang paling agung karena Dia rela menanggung semua derita untuk menyelamatkan kita.

Pendeta Frangki mengajak jemaat untuk memiliki komitmen mengasihi Yesus dalam seluruh aspek kehidupan.

“Karena dosa dan pelanggaran kita, Yesus rela menderita dan mati. Oleh karena itu, kita perlu mengasihi Yesus melalui ucapan, sikap, hati, dan perbuatan kita sehari-hari,” pesannya.

Firman Tuhan di minggu sengsara keempat ini tidak hanya menjadi momen untuk merenungkan ketaatan Yesus di Taman Getsemani, tetapi juga mengingatkan jemaat akan pentingnya kesetiaan dan doa dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan demikian, jemaat diharapkan dapat meneladani ketaatan Yesus dan tetap setia dalam menjalani kehidupan iman. (Salmon Teriraun)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: