Ambon — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat nilai impor Maluku sepanjang Januari–Oktober 2025 mencapai US$274,55 juta.

Angka tersebut turun US$124,75 juta atau 31,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Pelaksana Harian Kepala BPS Maluku Jessica Pupella menjelaskan, penurunan impor terutama dipicu merosotnya impor minyak dan gas (migas).

Sepanjang Januari–Oktober 2025, impor migas berkurang US$109,47 juta atau 28,72 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain migas, impor nonmigas juga mengalami kontraksi signifikan. Nilainya turun US$15,27 juta atau 84,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Selama Januari hingga Oktober 2025, impor Maluku masih didominasi komoditas migas berupa bahan bakar mineral dengan nilai US$271,74 juta. Sementara itu, impor nonmigas hanya tercatat sebesar US$2,81 juta,” ujar Jessica, Senin (15/12/2025).

Komoditas nonmigas yang diimpor Maluku antara lain plastik lembaran dan kemasan, kotak atau kemasan dari karton, barang tekstil lainnya, mesin untuk keperluan umum maupun khusus, serta peralatan listrik.

Dari sisi negara asal, impor Maluku—khususnya nonmigas—masih didominasi negara-negara ASEAN. Singapura menjadi pemasok utama dengan kontribusi 70,14 persen atau senilai US$192,57 juta.

Selanjutnya disusul Malaysia sebesar 28,83 persen atau US$79,17 juta, dan Tiongkok sebesar 1,02 persen atau US$2,81 juta.

“Jika dilihat berdasarkan kawasan, kontribusi negara ASEAN mencapai 98,98 persen, sedangkan Asia lainnya sebesar 1,02 persen,” kata Jessica.

Berdasarkan pelabuhan bongkar, penurunan impor paling besar terjadi di Pelabuhan Yos Sudarso yang mencatat kontraksi 31,56 persen dibandingkan periode Januari–Oktober 2024.

Sementara itu, impor melalui Pelabuhan Wahai di Kabupaten Maluku Tengah justru mengalami peningkatan. Nilainya naik 42,29 persen, dari US$1,72 juta pada Januari–Oktober 2024 menjadi US$2,45 juta pada periode yang sama tahun 2025. (at/pr)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: