Jakarta — Penyerang Liverpool, Alexander Isak, mengakui belum mengetahui secara pasti penyebab performanya yang belum optimal bersama The Reds pada musim ini. Meski demikian, pemain asal Swedia itu menilai situasi tersebut sebagai bagian dari dinamika perjalanan seorang pesepak bola profesional.
“Saya sebenarnya tidak punya jawaban pasti. Secara tim, semuanya memang berjalan lambat. Namun, begitulah sepak bola,” ujar Isak kepada media Swedia Sportbladet, seperti dikutip Sports Illustrated, Sabtu (tanggal).
Kendati belum menemukan performa terbaiknya, Isak menegaskan fokus utamanya saat ini adalah bangkit dan membalikkan keadaan. Ia menilai fase sulit merupakan sesuatu yang lumrah dalam karier seorang pemain.
“Yang terpenting adalah bagaimana membalikkan keadaan. Untuk saya pribadi, ini bukan pertama kalinya mengalami periode sulit. Begitulah karier sepak bola, selalu ada fase yang harus diperjuangkan,” katanya.
Isak direkrut Liverpool dengan ekspektasi besar setelah tampil impresif bersama Newcastle United. Dalam dua musim sejak 2023, ia mencetak total 44 gol di Liga Inggris, sebuah catatan yang mendorong Liverpool bergerak cepat merekrutnya sebagai bagian dari peremajaan skuad pasca menjuarai liga.
Liverpool menuntaskan transfer Isak dengan nilai fantastis 125 juta pound sterling, menjadikannya pembelian termahal dalam sejarah sepak bola Inggris. Namun, kepindahan tersebut sejauh ini belum berbuah manis.
Isak memulai musim dalam kondisi kebugaran yang kurang ideal setelah hubungannya dengan Newcastle memanas, termasuk keputusannya menolak mengikuti sesi latihan pramusim. Hingga pekan ke-16, penyerang berusia 26 tahun itu baru mencetak satu gol dari 14 penampilan bersama Liverpool.
Ia bahkan tersisih dari daftar starter dalam dua pertandingan terakhir, kalah bersaing dengan penyerang muda Prancis, Hugo Ekitike. Secara kolektif, performa Liverpool juga belum konsisten dan saat ini berada di peringkat ketujuh klasemen sementara Liga Inggris.
Meski demikian, Isak menilai situasi ini bukan pengalaman baru baginya. Ia mengingat kembali masa sulit saat menjalani kepindahan besar pertamanya ke Borussia Dortmund pada 2017.
Saat itu, Isak berstatus sebagai pemain termahal Allsvenskan dan sempat dibandingkan dengan Zlatan Ibrahimovic. Namun, ia gagal menembus tim utama Dortmund. Kariernya kemudian bangkit setelah dipinjamkan ke Willem II di Belanda, sebelum menemukan performa terbaik bersama Real Sociedad.
Kebangkitannya di Spanyol tersebut membuat Newcastle United berani menebusnya dengan nilai 63 juta pound sterling pada 2022. Pengalaman jatuh bangun itulah yang menjadi dasar keyakinan Isak bahwa masa sulitnya di Liverpool tidak akan berlangsung lama.
“Tentu saja saya percaya diri. Pengalaman mengajarkan untuk tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Mencari keseimbangan itulah yang sekarang semakin saya kuasai,” ujarnya. (ant/pr)
Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di:












Tinggalkan Balasan