Banda Naira – Civitas Akademika Universitas Banda Naira (UBN) bersama masyarakat Banda memperingati 404 tahun Tragedi Genosida Banda 1621 melalui upacara khidmat yang digelar di Monumen Parigi Rante, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (8/5/2025) pagi.

Peringatan ini menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur Banda yang menjadi korban kekejaman kolonial Belanda, sekaligus ikhtiar kolektif untuk menjaga memori sejarah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di Kepulauan Maluku.

Upacara diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemuka agama, budayawan, akademisi, pelaku pariwisata, hingga mahasiswa dan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan.

Seluruh peserta hadir dalam semangat yang sama: menghidupkan kembali kesadaran sejarah dan menolak lupa atas tragedi pemusnahan massal yang menimpa masyarakat Banda.

Ketua panitia pelaksana, Kasman Renyaan, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan pentingnya generasi muda memahami dan merawat sejarah lokal.

Ia menekankan bahwa peristiwa Mei 1621 bukan sekadar kisah kekerasan kolonial, tetapi merupakan upaya sistematis untuk menghapus eksistensi dan identitas masyarakat Banda.

“Empat abad lalu, kemanusiaan diinjak-injak dan sejarah dihancurkan demi ambisi kolonial. Sekitar 6.000 orang Banda tewas, para pemimpin adat dipenggal, dan tanah leluhur dirampas untuk dijadikan kebun pala dalam sistem perkenierschap,” ujar Kasman.

Kasman juga memaparkan kekuatan besar yang digerakkan oleh VOC dalam operasi militer tersebut, yakni 13 kapal besar, 3 kapal kecil, 6 perahu layar, 1.665 serdadu Eropa, 100 samurai bayaran, dan ratusan tawanan dari Jawa.

“Kompeni Belanda datang bukan sekadar menaklukkan, tetapi menghapus peradaban Banda,” tegasnya.

Ia berharap peringatan ini dapat menjadi momentum kebangkitan kesadaran sejarah di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.

“Mari kita wariskan bukan hanya kisah luka, tetapi juga nilai keberanian, harga diri, dan semangat bangkit dari ketidakadilan. Biarkan ingatan ini menjadi suluh yang menerangi jalan Banda menuju masa depan yang bermartabat,” tambahnya.

Ketua Yayasan Warisan Budaya Banda turut menegaskan pentingnya pengajaran sejarah tragedi 1621 sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah Banda.

Ia mencontohkan semangat Des Alwi, sejarawan asal Banda, yang menelusuri jejak sejarah hingga ke Belanda demi menjaga agar kisah ini tetap hidup dan dikenal generasi penerus.

Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Banda, Taip Selano, SH., yang hadir mewakili Camat Banda, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menyebut, peringatan ini tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga membangkitkan kembali semangat perjuangan leluhur.

“Kini giliran kita menjaga warisan itu agar tetap hidup dan tak lekang oleh waktu,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan dukungan penuh dari pemerintah kecamatan untuk mendorong agar peringatan ini dijadikan agenda resmi tahunan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah. “Kegiatan ini adalah bagian dari identitas dan harga diri masyarakat Banda,” tegasnya.

Rangkaian acara ditutup dengan pembacaan puisi dan pertunjukan teatrikal oleh mahasiswa UBN. Sebagai puncak penghormatan, para peserta bersama-sama melakukan tabur bunga di Monumen Parigi Rante, menandai penutupan peringatan yang sarat makna dan emosi. (pr)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: