Jakarta — Sedikitnya 1.530 orang dilaporkan tewas di Lebanon sejak eskalasi terbaru konflik yang dipicu agresi militer Israel pada 2 Maret lalu. Data tersebut disampaikan oleh pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memantau kondisi kemanusiaan di negara tersebut.

Wakil Koordinator Khusus PBB sekaligus Koordinator Kemanusiaan untuk Lebanon, Imran Riza, menyebutkan bahwa dari total korban jiwa tersebut terdapat sedikitnya 130 anak-anak yang meninggal dunia, sementara 461 anak lainnya mengalami luka-luka.

“Ini adalah tragedi sipil dalam skala yang sangat besar,” ujar Riza.

Selain korban jiwa, konflik juga memicu krisis pengungsian besar-besaran. Menurut Riza, lebih dari 1,1 juta orang atau hampir 20 persen dari total populasi Lebanon kini terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.

Saat ini sekitar 138.000 orang berlindung di 678 lokasi penampungan kolektif. Sementara itu, sebagian besar pengungsi lainnya—lebih dari 800.000 orang—tersebar di berbagai komunitas penampung atau permukiman informal dengan akses yang sangat terbatas terhadap layanan dasar.

“Komunitas penampung kini mengalami tekanan yang sangat besar,” kata Riza.

Ia menambahkan, infrastruktur vital dan layanan publik di Lebanon juga mengalami tekanan berat akibat konflik yang terus berlanjut.

PBB mencatat sedikitnya 106 insiden yang berdampak pada sistem kesehatan. Insiden tersebut menyebabkan 57 tenaga kesehatan meninggal dunia dan 158 lainnya terluka. Selain itu, setidaknya 51 pusat layanan kesehatan dan enam rumah sakit terpaksa menghentikan operasionalnya, sementara sejumlah fasilitas lainnya mengalami kerusakan.

Riza menegaskan bahwa eskalasi kekerasan harus segera dihentikan. Ia juga mendesak semua pihak yang terlibat konflik untuk mematuhi hukum humaniter internasional serta melindungi warga sipil, infrastruktur sipil, dan para pekerja kemanusiaan maupun tenaga medis.

Terkait permohonan dana darurat selama tiga bulan sebesar 308,3 juta dollar AS untuk membantu korban serangan di Lebanon selatan yang diluncurkan pada pertengahan Maret lalu, Riza menyebutkan bahwa dukungan yang diterima masih jauh dari kebutuhan.

“Dari total 308 juta dollar AS tersebut, hingga kini baru sekitar sepertiganya yang terpenuhi. Kami sangat mengkhawatirkan kondisi ini,” ujarnya. (bn/pr)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: