Ambon – Cuaca ekstrem disertai hujan deras yang melanda Kota Ambon sejak Sabtu, 21 Juni hingga Minggu, 22 Juni 2025 memicu rentetan bencana alam berupa tanah longsor dan banjir di sedikitnya 38 titik tersebar di berbagai kecamatan.
Data resmi dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kota Ambon mencatat longsor terjadi di 37 lokasi dan satu titik banjir merendam pemukiman warga di Kelurahan Hative Kecil.
Laporan harian Pusdalops menyebutkan bahwa intensitas hujan sedang hingga lebat berlangsung dalam durasi yang cukup panjang, memicu pergerakan tanah serta tumbangnya pohon di sejumlah wilayah padat penduduk.
Tanah longsor banyak terjadi di kawasan lereng dan pemukiman seperti Waihoka, Batu Merah, Urimessing, Skip, Karang Panjang, Kusu-Kusu Sereh, hingga Hatalai.
Beberapa kejadian tercatat cukup parah, di antaranya longsor yang menyebabkan rumah keluarga Kalvin de Fretes di Dusun Mahia, Urimessing, hancur tertimbun material longsoran.
Di wilayah Batu Merah, rumah milik keluarga Bahri Uweng dinyatakan rusak berat dan tak layak huni. Sementara di Jl. Rijali Gang Singa, tanah longsor menimpa bagian rumah keluarga Atrishyane Pical.
Satu titik banjir terjadi di RT 003/RW 002, Kelurahan Hative Kecil, akibat luapan air yang membawa material pasir dan merendam rumah milik keluarga Michael V. Latuheru. Tidak dilaporkan adanya korban luka maupun jiwa dalam bencana kali ini, namun lima unit rumah tercatat mengalami kerusakan.
BPBD Kota Ambon menetapkan perpanjangan status Siaga Darurat Bencana dan transisi ke tahap pemulihan. Petugas pos komando siaga darurat disiagakan selama 24 jam penuh untuk memantau kondisi cuaca dan memberikan bantuan logistik kepada warga terdampak. Pusdalops PB juga memanfaatkan media sosial dan grup komunikasi WhatsApp sebagai kanal pelaporan cepat dari warga.
Koordinasi dengan BMKG terus dilakukan guna memperbarui informasi prakiraan cuaca. Berdasarkan data BMKG, Kota Ambon masih berpotensi diguyur hujan ringan hingga lebat disertai angin dengan kecepatan 4–25 km/jam dan kelembaban udara mencapai 97 persen hingga 26 Juni 2025.
Di wilayah perairan Pulau Ambon, prakiraan gelombang berada dalam kategori sedang dengan tinggi antara 1,25 hingga 2,5 meter. Masyarakat pesisir diimbau tetap waspada terhadap potensi gelombang tinggi maupun banjir rob.
Dalam laporan resminya, Pusdalops PB menyatakan tidak terdapat kendala signifikan dalam penanganan bencana, dan hingga saat ini belum ada permintaan bantuan mendesak.
Aktivitas piket lapangan dan pelayanan informasi tetap berjalan normal dengan tim gabungan yang terdiri dari Nicolas Joseph, Gerson Sapulette, Mario Tuhumury, Weldeman D. Persulessy, dan R. P. Pattiasina.
(Reporter: Ali Gurium)
(Editor: Salmon Teriraun)
Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di:






Tinggalkan Balasan