Ambon – Puluhan mahasiswa Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua dan Front Rakyat Indonesia menggelar aksi demonstrasi menolak pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Tanah Papua. Aksi berlangsung di depan Tugu dr. J. Leimena, Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Senin (1/12/2025) sejak pukul 10.00 WIT.
Berdasarkan pantauan di lapangan, para demonstran membawa spanduk serta selebaran berisi tuntutan mereka. Beberapa perempuan asli Papua turut berada di barisan depan aksi sambil mengangkat spanduk penolakan.
Aksi ini disebut dilakukan serentak di berbagai daerah di Indonesia, terutama di wilayah Tanah Papua.
Perwakilan aliansi, Gembel Niuw, menyebut PSN yang digulirkan pemerintah di Papua tidak berpihak pada masyarakat adat. Ia menilai sejumlah proyek, termasuk di Merauke dan Jayawijaya, telah berdampak pada peminggiran hak-hak masyarakat adat.
“Proyek strategis nasional di Papua telah menyingkirkan tanah masyarakat adat,” ujar Niuw.
Ia juga mengkritik pelaksanaan PSN yang dianggap tidak melibatkan masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat. Bahkan, sejumlah proyek disebut sengaja dibangun di wilayah yang masih berstatus daerah konflik, seperti Wamena, Intan Jaya, Jayawijaya, Koabu, dan Dogiyai.
“Negara membangun proyek di daerah konflik, melakukan penerbangan ke pelosok, lalu menyingkirkan masyarakat adat di sana,” tambahnya.
Niuw menilai pemerintah memberikan izin kepada perusahaan tanpa persetujuan masyarakat pemilik tanah adat. Ia menegaskan bahwa masyarakat Papua tidak akan tinggal diam terhadap ekspansi investasi yang dinilai merugikan mereka.
Usai menyampaikan orasi, massa aksi membacakan pernyataan sikap. Mereka mendesak pemerintah mencabut izin perusahaan yang dianggap merusak lingkungan serta merampas hak masyarakat adat.
“Dengan tegas kami meminta izin perusahaan dicabut. Kami menolak perusahaan masuk ke wilayah adat kami,” kata Niuw menegaskan. (at/pr)
Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di:






Tinggalkan Balasan