Fakfak — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan komitmennya untuk menjadikan Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat sebagai pusat hilirisasi pala nasional.

Keputusan itu diambil langsung olehnya sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi Nasional, dan diumumkan dalam Rapat Paripurna DPRK Fakfak memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Fakfak ke-125, di Gedung Sidang Utama DPRK Fakfak, Minggu (16/11/2025).

Dalam sambutannya, Bahlil mengungkapkan sempat terjadi perdebatan internal mengenai lokasi proyek hilirisasi pala antara Banda dan Fakfak. Ia kemudian memutuskan untuk menempatkan proyek strategis tersebut di Fakfak, dengan pertimbangan historis dan potensi wilayah.

“Pala di republik ini hanya dua, pala Banda dan pala Fakfak. Satu di tempat saya lahir, satu di tempat saya besar dan sekolah. Akhirnya, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, saya putuskan hilirisasi pala ditaruh di Fakfak,” ujar Bahlil disambut tepuk tangan peserta sidang.

Bahlil menjelaskan, pengembangan hilirisasi pala di Fakfak tidak akan menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Proyek ini akan dibiayai oleh dana investasi antar-lembaga, dengan konsep menjadikan Fakfak sebagai hub pengolahan pala dari wilayah-wilayah sekitarnya, seperti Gorom, Geser, Ternate, hingga Banda.

“Seluruh pala dari kawasan itu akan diolah di sini. Namun, skala pengembangannya tidak boleh kecil karena tidak ekonomis. Kita harus berpikir besar,” katanya.

Untuk mendukung rencana besar tersebut, Bahlil meminta pemerintah daerah menyiapkan lahan seluas 5.000 hingga 10.000 hektar. Ia menekankan pentingnya tata kelola perkebunan pala yang terencana dan berorientasi jangka panjang.

“Kita tidak bisa lagi membangun dengan konsep ‘tiba saat tiba akal’. Pertanian dan perkebunan harus by design. Fakfak ini bukan sekadar kebun pala, tapi hutan pala yang luar biasa,” jelasnya.

Selain hilirisasi pala, Bahlil juga menyoroti peluang besar pengembangan industri pupuk berbasis gas alam di Fakfak.

Menurutnya, bahan baku untuk pupuk dapat diperoleh dari Genting Oil, dengan sumber gas berasal langsung dari wilayah Fakfak.

Ia menegaskan, proyek ini berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi daerah dengan nilai investasi mencapai lebih dari Rp20 triliun.

“Hilirisasi pupuk ini bisa menjadi trigger pertumbuhan ekonomi daerah dan penciptaan lapangan kerja baru. Karena itu, saya minta agar persoalan lahan tidak dijadikan hambatan,” tegas Bahlil.

Dengan dua sektor strategis hilirisasi pala dan pupuk berbasis gas pemerintah pusat berharap Fakfak dapat menjadi salah satu episentrum ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.

Reporter/Editor: Salmon Teriraun)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: