Jakarta – Ketua Komisi III DPR RI Bambang Soesatyo menegaskan, peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni harus menjadi momentum refleksi kolektif dalam memperkuat persatuan bangsa, khususnya di ruang digital. Peringatan ini, menurutnya, tidak boleh sekadar seremonial belaka.

“Pancasila harus hidup dalam algoritma kehidupan sehari-hari, meski kita berbeda suku, agama, atau pilihan politik. Kita tetap satu: Indonesia,” tegas Bamsoet, sapaan akrab Bambang Soesatyo, dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (1/6/2024).

Mantan Ketua DPR dan MPR itu menekankan, tantangan menjaga persatuan kini semakin kompleks di tengah arus informasi digital. Fenomena echo chamber dan algoritma yang memfilter konten berdasarkan preferensi pengguna dinilainya mempersempit ruang dialog dan memperdalam polarisasi.

“Di sinilah Pancasila, terutama sila ketiga ‘Persatuan Indonesia’, relevan untuk ditegakkan di dunia digital,” ujarnya.

Bamsoet mengingatkan, ruang digital Indonesia tidak steril dari ancaman disinformasi yang dapat mengganggu stabilitas nasional. Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Indonesia menjadi sasaran geopolitik global.

“Ketahanan nasional di era digital hanya kuat jika masyarakat menyadari bahwa identitas digital adalah bagian dari identitas kebangsaan,” paparnya.

Ia mendorong generasi muda, sebagai dominan pengguna internet, aktif merawat persatuan melalui interaksi digital. “Setiap unggahan dan komentar harus mencerminkan nilai kebangsaan,” tegasnya.

Selain itu, Bamsoet menyarankan pengajaran Pancasila tidak hanya melalui hafalan, tetapi dengan pendekatan kreatif seperti film pendek, vlog edukatif, atau kampanye media sosial berbasis kearifan lokal.

“Komunitas daerah sudah memulai dengan konten berbahasa daerah yang memperkuat jati diri sekaligus kebangsaan. Ini wujud nyata Bhinneka Tunggal Ika di dunia maya,” tutupnya. (ant/pr)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: