
Fakfak – Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kabupaten Fakfak, Mahmud La Biru, S.Sos, M.Si resmi membuka pembekalan bagi 42 calon mahasiswa-mahasiswi program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) tahun 2024.
Kegiatan ini diselenggarakan Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat bekerjasama dengan Dispora Kabupaten Fakfak di Hotel Grand Papua Fakfak, Jumat (2/8/2024) siang tadi.
Hadir selain Kepala Dispora, Tim Pembekalan dari Dinas Pendidikan Papua Barat, juga hadir Sekretaris Dispora, Mohamad Tahir Patiran dan Kepala Bidang Satuan pendidikan SMP, SMA dan SMK Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Fakfak, Mansur Ali, S.Pd, M.Si.
Peserta calon Adik didampingi orang tua mendapat Pembekalan dari Ketua Tim Pembekalan Adik Dinas Pendidian Papua Barat, Agus Supriadi, S.Pd, M.Pd, yang juga Bagian Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Papua Barat.
Kadispora Kabupaten Fakfak, Mahmud La Biru dalam sambutannya mengatakan, proses seleksi program ADIK ini langsung dari Pusat Pelayanan Pembiayan Pendidian (Puslapdik) Kementerian Pendidian, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
“Bukan saja Puslapdik sendiri, tetapi beberapa perguruan tinggi melakukan seleksi masuk program ADIK, jadi Kabupaten, Provinsi hanya sebagai fasilitator saja dan yang menentukan kelulusan di pusat,” kata Mahmud La Biru.
Sedangkan persyaratan yang dinilai, kata Mahmud La Biru, yakni nilai raport semester satu hingga semester lima dan enam.
“Kenapa nilai raport semester enam, karena nilai raport semester enam itu bisa masuk atau tidak, itu kemudian yang menjadi penilaian, jadi bapak, ibu punya anak, yang lulus ini secara seleksi nasional,” ujarnya.
“Jadi begitu dengar pengumuman kelulusan ada yang telepon masuk ke saya selaku Kepala Dinas Pendidikan, telepon juga ke Koordinator dan Ketua Tim Penyelenggara program Adik ini, dan ada yang datang bertubi-tubi ke saya minta kebijakan, saya bilang tidak ada kebijakan lagi, katong (kita) sendiri tidak tahu mau telepon siapa yang mengambil kebijakan, jadi kelulusan ini adalah hasil perjuangan bapak, ibu dan anak-anak ini,” jelasnya.
Perjuangan anak-anak yang lolos program Adik ini, sambung Mahmud La Biru, mulai masuk SMA, SMK hingga selesai dan hal ini sering Ia (Kadispora) melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah.
“Setiap kegiatan selalu saya memberikan dorongan dan motivasi kepada anak-anak kita mulai belajar do SD, SMP, bukan hanya untuk ujian yang penting lulus, tapi belajar dan belajar, begitu juga masuk SMA, SMK, Madrasah Aliyah dan lain sebagainya, jadi begitu masuk belajar terus sampai selesai, itulah hasil sekerang anak-anak peroleh dengan didukung oleh doa orang tua,” kata Mahmud La Biru.
Menurutnya, penyelenggaraan program afirmasi pendidikan tinggi merupakan salah satu upaya pemerintah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, kompetitif, andal, dan berdaya saing pada masa mendatang.
“Saya berharap kepada calon mahasiswa-mahasiswi program ADIK, agar simak baik-baik apa yang disampaikan melalui pembekalan ini,” pintanya.
Pembekalan dimaksud, lanjut Mahmud La Biru, agar calon mahasiswa afirmasi memahami aturan yang harus ditaati selama menempuh pendidikan tinggi di luar Tanah Papua.
“Calon mahasiswa perlu dibekali supaya punya pengetahuan awal tentang daerah yang mau dituju dan aturan yang harus diikuti,” tandasnya.
Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan pembekalan, yang disampaikan Ketua Tim Pembekalan Adik Dinas Pendidian Papua Barat, Agus Supriadi, S.Pd, M.Pd didampingi moderator Ketua Tim Penyelenggaran Program Adik, Mansur Ali, S.Pd, M.Si.
Agus Supriadi menjelaskan, program Adik adalah program nasional yang terdiri dari Adik wilayah Papua, yaitu beasiswa bagi putra putri daerah wilayah Papua, Adik daerah khusus yaitu, beasiswa bagi putra putri daerah khusus/3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar).
“Adik Adem, yaitu beasiswa bagi putra putri daerah Papua yang telah mengikuti program ADEM Sedangkan ADIK Repatriasi, yaitu beasiswa untuk putra putri TKI/Repatriasi,” jelasnya.
“Bapak, ibu bisa melihat website dari adik.kemendikbud.go.id, ini salah satu beasiswa yang diberikan kepada para lulusan SMA untuk diberikan kesempatan kuliah di Universitas tertentu yang dipilih untuk ADIK Papua, dipililah mulai dari Maluku sampai ke Sabang, tidak ada ADIK di Papua, mulai dari Ambon sampai ke Aceh Darusalam,” jelasnya lagi.
Bagaimana perekruitmennya, jelas Agus bahwa, setiap kabupaten memegang akun, terus yang menentukan siapa? Yang menentukan adalah pusat.
“Penentuan jurusan, penentuan dia diterima dimana dan berapa yang diterima, jadi bukan yang menentukan provinsi atau kabupaten Fakfak, jadi sistem penerimaan maupun pendaftaran sudah transparansi,” kata Agus.
Selain memberikan penjelasan terkait seleksi masuk program ADIK, Agus juga memberikan penjelasan terkait bantuan biaya hidup yang diberikan secara langsung kepada mahasiswa penerima beasiswa ADIK dalam waktu 3 bulan sekali atau per semester dua kali.
“Dengan ketentuan mahasiswa aktif yang diajukan perguruan tinggi ke Puslapdik dengan surat permohonan dan melampirkan data mahasiswa,” tuturnya.
Biaya Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa penerima ADIK, jelas Agus, diberikan melalui perguruan tinggi setiap semester yang diajukan oleh perguruan tinggi ke Puslapdik dengan surat permohonan dan melampirkan dan mahasiswa.
“Mahasiswa yang sudah dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa ADIK tahun 2024 dengan penjelasan sebagai berikut, penerima beasiswa ADIK tahun 2024 segera melakukan registrasi pada tangga 16 Agustus 2024 pada masing-masing perguruan tinggi,” jelasnya.
Lebih jauh dijelaskannya, penerimaan beasiswa ADIK tahun 2024 yang terdapat pada lampiran telah ditetapkan melalui surat keputusan pemimpin perguruan tinggi pelaksanaan program Adik tahun 2024.
“Perguruan tinggi dimohon menyediakan laman khusus registrasi penerima beasiswa Adik 2024, dan Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten, Kota pengirim dimohon untuk membantu menginformasikan kepada penerima beasiswa ADIK tahun 2024 untuk segera melakukan registrasi pada masing-masing perguruan tinggi,” katanya.
Materi dari Puslapdik, yaitu motivasi harus konsisten dan lulus tepat waktu, adaptasi perbedaan kebiasaan dan budaya.
“Fokus sekolah menambahkan pengetahuan dan partisipasi aktif pada organisasi kemahasiswaan dan penelitian resmi di kampus,” tandasnya. (pr)















Tinggalkan Balasan