Fakfak — Jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) Imanuel Fakfak mengikuti ibadah Minggu dengan khidmat, Minggu (11/1/2026) pukul 09.00 WIT.
Ibadah dipimpin Pendeta FD. Maspaitela, S.Si., M.M., dengan tema sentral “Kepedulian Abram, Kebebasan Lot” yang diangkat dari bacaan Alkitab Kejadian 14: 1-16.
Dalam khotbahnya, Pdt. Maspaitela menegaskan kisah Abraham dan Lot mengajarkan makna kepedulian yang lahir dari iman dan berujung pada pembebasan serta pemulihan sesama.
Menurut Pendeta Maspaitela, relasi antar manusia baik dalam keluarga, jemaat, maupun masyarakat, tidak pernah berdiri sendiri.
“Kita hidup saling terkait. Apa yang terjadi pada satu orang sering berdampak pada yang lain. Pertanyaannya, apakah kita mau peduli ketika melihat sesama terjatuh dan kehilangan kebebasan?” ujar Pdt. Maspaitela di hadapan jemaat.
Ia menjelaskan, Kejadian 14 merupakan salah satu catatan peperangan tertua dalam Alkitab, ketika wilayah Kanaan dikuasai kerajaan-kerajaan kecil yang memberontak terhadap Kedorlaomer, raja Elam.
Dalam peperangan itu, kota-kota seperti Sodom dan Gomora dijarah, penduduknya ditawan, termasuk Lot keponakan Abraham yang tinggal di Sodom karena pilihannya sendiri.
“Lot mengalami kehilangan kebebasan, bukan karena ia memberontak, tetapi karena berada di tempat yang salah pada waktu yang salah,” kata Maspaitela.
Dari peristiwa itulah, lanjut Maspaitela, terlihat kepedulian Abraham yang tidak menyalahkan Lot, melainkan bertindak menyelamatkannya dengan keberanian dan iman.
Ia menekankan sikap Abraham relevan dengan kehidupan jemaat masa kini. Banyak orang, katanya, terbelenggu oleh persoalan ekonomi, konflik keluarga, ketakutan, kecanduan, maupun tekanan hidup. Dunia yang rusak kerap merampas kebebasan sejati manusia.
“Sebagai orang Kristen, kita dipanggil hidup berbeda. Kita ada di dalam dunia, tetapi bukan dari dunia. Kita dipanggil menjadi garam dan terang, meski harus menanggung risiko dan stigma,” tuturnya.
Menurut Maspaitela, iman sejati tidak berhenti pada rasa simpati, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata.
Kepedulian, katanya, menuntut pengorbanan waktu, tenaga, bahkan kenyamanan, sebagaimana Abraham yang berani mengambil langkah berisiko demi membebaskan Lot.
Dalam konteks kehidupan jemaat, ia mengajak warga gereja untuk membangun persekutuan yang merangkul, bukan menghakimi.
“Sering kali kita lebih cepat menyalahkan daripada mengulurkan tangan. Padahal kasih tidak mencari siapa yang salah atau benar, tetapi mencari jalan pemulihan,” ujarnya.
Ia juga menyinggung program diakonia jemaat sebagai wujud kepedulian bersama, antara lain pendampingan bagi keluarga berduka serta perhatian terhadap pendidikan anak-anak jemaat. Menurut dia, duka satu keluarga adalah duka seluruh jemaat.
“Kita adalah satu keluarga besar. Duka di rayon adalah duka jemaat, duka di keluarga adalah duka jemaat,” katanya.
Lebih jauh, Maspaitela mengaitkan pesan khotbah dengan tema pelayanan gereja tahun 2026 sebagai Tahun Pelayanan Kepedulian.
Tema ini, menurut dia, menekankan gerakan belas kasih kepada mereka yang tersingkir dan terabaikan, sekaligus kepedulian terhadap alam ciptaan Tuhan.
“Kepedulian yang lahir dari iman dapat menjadi sarana pembebasan bagi sesama dan pemulihan bagi dunia,” ucapnya.
Ia berharap Jemaat GKI Imanuel Fakfak terus bertumbuh menjadi jemaat yang peduli, berani bertindak dalam iman, dan setia menjadi alat Tuhan bagi banyak orang.
Maspaitela mengajak jemaat agar membawa nilai kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
“Tuhan yang memanggil dan memberkati Abraham adalah Tuhan yang sama, yang setia menyertai setiap tindakan kasih umat-Nya,” jelas Maspaitela. (st/pr)












Tinggalkan Balasan