Fakfak — Jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) Imanuel Fakfak mengikuti ibadah Minggu subuh yang berlangsung khidmat pada Minggu (22/3/2026) pukul 06.00 WIT.

Ibadah tersebut merupakan peringatan Minggu Sengsara Tuhan Yesus ke-6 yang dipimpin Pendeta F.D. Maspaitella, S.Si, M.M.

Dalam khotbahnya yang diambil dari bacaan Injil Markus 14:32–42, Pendeta Maspaitella mengangkat tema “Tetap Berjaga dan Berdoa di Tengah Penderitaan.”

Ia menjelaskan perikop tersebut menggambarkan pergumulan Yesus di Taman Getsemani menjelang penangkapan dan penyaliban-Nya.

“Peristiwa ini terjadi setelah perjamuan terakhir, pada malam sebelum penyaliban. Getsemani menjadi titik peralihan dari perayaan menuju penderitaan yang harus ditanggung Yesus,” ujar Maspaitella dalam khotbahnya.

Ia menjelaskan, kata Getsemani berasal dari bahasa Aram Gat Semani yang berarti tempat pemerasan minyak zaitun, sebuah simbol tekanan penderitaan yang dialami Yesus.

Menurut dia, doa Yesus di Getsemani menunjukkan pergumulan manusiawi yang jujur sekaligus ketaatan total kepada kehendak Allah.

“Yesus berdoa dengan penuh kejujuran, namun pada akhirnya berkata: bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi. Inilah puncak ketaatan,” katanya.

Pendeta Maspaitella juga mengingatkan jemaat tentang pentingnya berjaga dan berdoa dalam menghadapi kelemahan manusia.

Ia menyinggung perkataan Yesus kepada murid-murid-Nya, bahwa roh memang penurut tetapi daging lemah.

“Tanpa doa dan kewaspadaan rohani, iman manusia mudah goyah,” ujarnya.

Ia menegaskan kisah Getsemani bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan refleksi bagi kehidupan orang percaya saat ini.

“Setiap orang memiliki ‘Getsemani’ dalam hidupnya pergumulan, penderitaan, dan keputusan iman. Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tetap berjaga, berdoa, dan setia kepada kehendak Tuhan,” tutur Maspaitella. (salmon teriraun)