Fakfak — Ibadah Malam Natal di Gereja Kristen Injili (GKI) Jemaat Imanuel Fakfak berlangsung khidmat dan penuh sukacita, Rabu (24/12/2025) malam.

Ibadah dimulai pukul 19.00 WIT dan diikuti ratusan jemaat yang memadati gedung gereja.

Ibadah Malam Kudus tersebut dipimpin Pendeta Frangky Paksoal, S.Th dengan tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” berdasarkan Matius 1:21–24. Subtema “Kasih Allah Memampukan Setiap Keluarga Hidup dalam Kepedulian kepada Sesama dan Dunia” menjadi benang merah seluruh rangkaian ibadah.

Dalam khotbah yang terambil dari Matius 2:1–12 tentang orang-orang majus dari Timur, Pendeta Frangky mengajak jemaat merenungkan dua respons yang sangat berbeda terhadap kelahiran Yesus Kristus, yakni sikap Raja Herodes dan para majus.

Menurut dia, perbedaan respons itu menyimpan pesan iman yang relevan bagi kehidupan orang percaya masa kini.

“Secara logika, tidak masuk akal seorang raja besar merasa takut kepada seorang bayi yang lahir dalam kesederhanaan. Namun Herodes justru gelisah karena merasa kekuasaan dan posisinya terancam,” ujar Pendeta Frangky di hadapan jemaat.

Ia menjelaskan, Herodes merepresentasikan manusia yang terikat pada kekuasaan duniawi. Ketika mendengar kabar kelahiran Yesus, Herodes tidak melihat-Nya sebagai pembawa damai, melainkan sebagai ancaman yang harus disingkirkan.

Sebaliknya, para majus menunjukkan respons iman yang berbeda. Meski dikenal sebagai orang-orang berilmu dan berkecukupan, mereka rela menempuh perjalanan jauh demi berjumpa dengan Sang Juruselamat.

“Para majus menggunakan kepintaran dan pengetahuan mereka bukan untuk kesombongan, melainkan untuk mencari Tuhan. Mereka mengikuti bintang, menempuh perjalanan yang melelahkan, dan akhirnya sujud menyembah Yesus,” tutur Pendeta Frangky.

Ia menegaskan, iman para majus tidak goyah meskipun Yesus lahir bukan di istana megah, melainkan di tempat yang sederhana. Yang mereka lihat bukanlah kondisi lahiriah, melainkan pribadi yang hadir di sana.

Dari kisah tersebut, Pendeta Frangky menyampaikan sejumlah pesan reflektif. Pertama, berkat berupa jabatan, ilmu, maupun harta seharusnya membawa manusia semakin dekat kepada Tuhan, bukan menjauh.

Kedua, kelahiran Yesus merupakan penggenapan janji Allah yang setia dan tidak pernah diingkari. Ketiga, iman menuntut pengorbanan waktu dan tenaga untuk terus mencari Tuhan dalam doa dan firman.

“Tuhan tidak meminta emas atau perak kita, tetapi Ia menghendaki hati yang bertobat dan hidup yang mau diubah,” katanya.

Ia juga menyinggung makna kepulangan para majus melalui jalan lain setelah berjumpa dengan Yesus.

Menurutnya, hal itu melambangkan perubahan hidup yang seharusnya dialami setiap orang yang sungguh-sungguh berjumpa dengan Kristus.

“Siapa yang telah berjumpa dengan Yesus, hidupnya tidak boleh sama lagi seperti sebelumnya. Ia dipanggil untuk menempuh jalan yang baru, jalan kasih dan kebenaran,” ujar Pendeta Frangky. (st/pr)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: