Fakfak – Umat Muslim di Kampung Perwasak, Distrik Fakfak Barat, Kabupaten Fakfak, menyambut Hari Raya Idul Fitri 1466 Hijriah dengan penuh khidmat.

Masyarakat setempat memadati Masjid Nurul Hidayat, Minggu (30/3/2025) untuk menunaikan ibadah sekaligus merenungkan pesan-pesan kebajikan yang disampaikan dalam khutbah.

Khatib Idul Fitri, Darwis Baraweri, menyampaikan khutbah yang sarat makna, mengingatkan jemaah tentang esensi kemenangan setelah sebulan berpuasa.

“Kita hadir di masjid ini sebagai bukti ketaatan kepada Allah. Setelah berjuang menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, serta menghidupkan malam dengan tarawih dan tadarus, kita berharap Ramadan yang telah pergi meninggalkan kita sebagai pribadi yang bertakwa,” ujarnya.

Darwis Baraweri juga mengingatkan, tidak semua orang beriman akan kembali bertemu Ramadan di tahun berikutnya.

“Bersyukurlah atas nikmat hidup yang Allah berikan. Lihatlah sekitar kita, berapa banyak orang terkasih yang telah dipanggil-Nya? Maka, setelah salat Id, ziarahlah kepada mereka yang telah tiada, mohonkan ampunan untuk mereka,” pesannya.

Khutbah juga menekankan pentingnya memaafkan dan menjaga silaturahmi.

“Dosa antar manusia tidak akan terampuni kecuali dengan meminta maaf langsung. Maka, hari ini adalah momentum untuk membersihkan hati,” seru Darwis.

Ia mengingatkan bahaya memutus tali silaturahmi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Muhammad.

“Allah akan menutup pendengaran, penglihatan, dan melaknat orang yang memutuskan hubungan persaudaraan.” jelasnya.

Pesan paling mengharukan adalah ajakan untuk menghormati orang tua.

“Ibu dan ayah adalah ‘keramat’ dalam hidup kita. Peluk mereka, cium tangan mereka, karena tidak semua orang masih memiliki kesempatan itu,” ungkapnya.

Usai salat, warga Kampung Purwasak saling bersalam-salaman dan berbagi hidangan khas Lebaran, mempererat tali persaudaraan.

Meski pelaksanaan Salat Id lebih awal, semangat kebersamaan dan toleransi tetap menjadi inti perayaan.

Pelaksanaan Salat Idul Fitri lebih awal di Kampung Perwasak adalah tradisi turun-temurun yang dipegang teguh masyarakat.

Perbedaan waktu tidak mengurangi makna Idul Fitri sebagai hari kemenangan dan penguatan hubungan sosial.

“Idul Fitri mengajarkan kita untuk kembali fitri, suci, dan penuh kasih sayang. Mari jadikan momentum ini untuk memperbaiki diri dan hubungan dengan sesama,” ujar Darwis Baraweri.

Dengan khidmat dan sukacita, masyarakat Kampung Perwasak membuktikan bahwa Idul Fitri bukan sekadar ritual, tetapi juga perayaan kebersamaan dan ketaqwaan. (st/pr)