Fakfak — Kabupaten Fakfak di Tanah Papua menyimpan potensi wisata alam dan budaya yang memikat.

Hamparan pantai berpasir putih, teluk eksotis, hingga situs bersejarah seperti Masjid Tua Patimburak dan Benteng Pertahanan Jepang menjadi daya tarik utama. Namun, potensi ini belum tergarap optimal.

Data Dinas Pariwisata Fakfak mencatat, jumlah kunjungan wisatawan pada 2024 masih berfluktuasi.

Minimnya infrastruktur, promosi yang belum terintegrasi, serta lemahnya sinergi antar-sektor disebut sebagai tantangan utama.

Untuk menjawab persoalan tersebut, pemerintah daerah menyiapkan langkah strategis melalui Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Kabupaten Fakfak (RIPPARKAB) yang tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2023.

Pendekatan ini menekankan tiga prinsip utama: pembangunan berbasis masyarakat adat, pengelolaan terintegrasi, dan keberlanjutan lingkungan.

“Pariwisata Fakfak tidak bisa maju sendirian. Ia membutuhkan orkestra harmonis dari semua pihak,” tertulis dalam dokumen RIPPARKAB.

Pengembangan pariwisata Fakfak mengacu pada konsep Penta-Helix, yakni kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media.

Model ini diyakini mampu memperkuat ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.

Dalam sinergi ini, setiap organisasi perangkat daerah (OPD) memiliki peran khusus. Dinas PUPR fokus membangun akses ke destinasi utama, Dinas Perhubungan memperkuat konektivitas transportasi, Dinas Lingkungan Hidup menangani pengelolaan sampah di kawasan wisata, dan Dinas UMKM mendorong pengembangan produk lokal, seperti kopi Fakfak dan kain tenun khas daerah.

Sektor swasta juga dilibatkan sebagai mitra strategis. Pelaku perhotelan, agen perjalanan, hingga UMKM oleh-oleh didorong berpartisipasi dalam promosi, penyediaan paket wisata terpadu, serta penguatan akses pembiayaan melalui kredit pariwisata di bank daerah.

Untuk mempercepat kolaborasi, pemerintah merancang platform digital bernama Fakfak Bersinergi.

Aplikasi ini menyediakan peta wisata, informasi penginapan, kuliner, dan ulasan wisatawan secara real time.

Selain itu, platform ini akan menjadi pusat perizinan terpadu guna mempermudah investasi sektor pariwisata.

Langkah ini diharapkan memberi dampak luas. Bagi pemerintah, anggaran dapat dimanfaatkan lebih efisien.

Pelaku usaha berpeluang meningkatkan omzet hingga 30 persen. Masyarakat lokal mendapat lapangan kerja baru, sementara wisatawan menikmati pengalaman yang lebih nyaman dan aman.

“Fakfak harus dikenal bukan hanya sebagai penghasil pala, tetapi juga destinasi wisata unggulan Papua Barat,” ujar Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Fakfak, Muh. Ilham Nurdin, saat memaparkan materi Pengembangan Pariwisata Fakfak melalui Sinergitas Lintas Sektor.

Pemaparan itu disampaikan dalam Workshop Penyelenggaraan Koordinasi Pariwisata yang digelar di Fajar Resto Outdoor, Hotel Grand Papua Fakfak, Selasa 9 September 2025. (st/pr)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: