Flores Timur, NTT – Tangis haru mengiringi pemakaman jenazah Rosalia Rerek Sogen (30), seorang guru yang menjadi korban serangan brutal Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.

Jenazah Rosalia dimakamkan dengan upacara kenegaraan di Desa Bantala, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu (26/3/2025) pagi. Prosesi pemakaman diiringi lagu Hymne Guru, dinyanyikan oleh ribuan pelayat yang hadir, termasuk keluarga, rekan guru, siswa, dan warga setempat.

Suasana duka semakin terasa saat peti jenazah Rosalia diturunkan ke liang lahat. Upacara pemakaman dipimpin oleh Pastor Paroki Lewotala, P. Heri Bora, CSSR.

Turut hadir dalam penghormatan terakhir Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, dan Wakil Bupati Ignasius Boli Uran, yang meletakkan karangan bunga di pusara Rosalia sebagai tanda duka cita.

Rosalia Rerek Sogen adalah sosok guru berdedikasi tinggi yang rela mengabdikan hidupnya untuk pendidikan anak-anak di pedalaman Papua. Ia dikenal sebagai pribadi yang peduli dan penuh kasih terhadap murid-muridnya. Gajinya sering ia sisihkan untuk membeli perlengkapan sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu.

“Dia selalu membelikan buku dan bolpoin untuk anak-anaknya. Dia sangat peduli dengan pendidikan di Papua,” kenang Emanuel Suban Sogen, sepupu Rosalia.

Sebelum menjadi guru, Rosalia sempat bercita-cita menjadi biarawati Katolik. Namun, karena tidak mendapatkan restu dari sang ayah, ia memilih jalur pendidikan dan lulus dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Matematika Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Dedikasinya untuk dunia pendidikan membawanya ke Papua, tempat ia mengajar selama tiga tahun terakhir.

Sehari sebelum tragedi, Rosalia sempat menelepon kakaknya, Emanuel Suban Sogen. Dalam percakapan itu, ia mengungkapkan rencananya untuk pulang ke kampung halaman pada Mei 2025 setelah tiga tahun merantau di Papua.

“Dia sempat bilang mau pulang kampung bulan Mei. Sejak 2022 merantau, dia sering telepon orang tua lewat saya,” ujar Emanuel, mengenang percakapan terakhir mereka.

Namun, takdir berkata lain. Pada Jumat (21/3/2025), serangan brutal KKB merenggut nyawanya. Emanuel mencoba menghubungi ponsel Rosalia berulang kali, tetapi tidak ada jawaban. Kabar duka akhirnya dikonfirmasi setelah ia berkomunikasi dengan rekan-rekan Rosalia di Papua dan pihak yayasan tempatnya bekerja.

Pihak keluarga Rosalia mengecam tindakan keji yang dilakukan oleh KKB dan meminta pemerintah untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku.

“Kami mengutuk keras perbuatan mereka dan berharap pemerintah menindak tegas pelaku,” ujar Emanuel.

Sebagai bentuk penghormatan dan dukungan bagi keluarga korban, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan memberikan santunan duka sebesar Rp 20.000.000 kepada kedua orang tua Rosalia. Santunan tersebut diserahkan langsung oleh Penelaah Teknis Kebijakan, Marnia Yasin, yang turut menyampaikan belasungkawa mendalam.

Pasca kejadian, aparat gabungan TNI segera melakukan evakuasi terhadap korban ke Jayapura dengan pengamanan ketat, mengingat situasi di lokasi kejadian masih mencekam.

Dalam keterangannya, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Brigjen TNI Kristomei Sianturi, menyebut bahwa serangan KKB di Distrik Anggruk mengakibatkan satu guru meninggal dunia dan enam lainnya mengalami luka-luka. Selain itu, fasilitas pendidikan di daerah tersebut turut dibakar oleh kelompok bersenjata.

“Serangan yang terjadi pada Jumat, 21 Maret 2025, mengakibatkan satu orang meninggal dunia, enam orang luka-luka, serta fasilitas pendidikan terbakar,” ujar Brigjen Kristomei.

TNI pun telah mengevakuasi 42 tenaga pengajar dan tenaga kesehatan dari Yahukimo ke Jayapura serta meningkatkan pengamanan di wilayah rawan.

Kepergian Rosalia meninggalkan duka mendalam bagi dunia pendidikan di Indonesia. Perjuangannya dalam mencerdaskan anak-anak Papua kini menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Perhimpunan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Flores Timur turut memberikan penghormatan terakhir. Dalam unggahan di media sosial, mereka menyebut Rosalia sebagai Pahlawan Pendidikan yang gugur dalam tugas mulia.

“Beliau gugur dalam tugas mencerdaskan anak Papua, mencerdaskan anak bangsa. Dedikasinya yang luar biasa menjadikannya layak disebut sebagai Pahlawan Pendidikan. Selamat jalan, Ibu Guru… Terima kasih atas pengabdianmu,” tulis akun @ntt_talk.

Kini, Rosalia telah pergi, tetapi semangatnya tetap hidup dalam kenangan orang-orang yang mencintainya. Dedikasinya untuk pendidikan akan terus dikenang, dan pengorbanannya tidak akan pernah sia-sia.

Selamat jalan, Ibu Guru Rosalia. Bahagia di surga.

Sumber: Tribun Flores, Pos Kupang, Kompas.com, keterangan resmi TNI.

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: