Fakfak — “Tidak ada hal yang lebih indah selain ucapan syukur dan hati yang gembira,” demikian disampaikan Anggota Badan Pekerja Am Wilayah 8 Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Lewi Sawor, S.Th., saat menutup rangkaian Temu Raya III Guru Sekolah Minggu (GSM) se-Tanah Papua di Gedung KONI Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Rabu (2/7/2025) malam.

Dalam sambutannya, Pdt. Sawor menyatakan rasa bangga dan syukur karena kegiatan besar tersebut berlangsung dengan semangat persaudaraan dan kerja sama yang kuat.

Ia mengaku berdiri di mimbar dengan penuh sukacita mewakili Sinode GKI, dan percaya bahwa perasaan yang sama juga dirasakan seluruh peserta.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita menjadikan momen ini sebagai tempat untuk meletakkan dasar dan menata pekerjaan ke depan. Kita tahu, tantangan pelayanan tidak akan habis, bahkan akan terus menguji kesabaran dan tekad kita,” ujarnya.

Ia juga menyinggung keunikan Temu Raya kali ini yang mencatat sejarah tersendiri karena berlangsung tanpa henti sejak pukul 5 subuh hingga 5 pagi keesokan harinya.

“Ini pengalaman pertama dalam sejarah Temu Raya GSM, dan hanya terjadi di Fakfak,” katanya, disambut tepuk tangan peserta.

Menurutnya, Fakfak bukan sekadar tempat persinggahan. Dengan alam yang menantang dan penuh tanjakan, tanah Mbaham Matta Selatan mengajarkan setiap orang yang menginjakkan kaki untuk bersungguh-sungguh dalam menapaki jalan kehidupan dan pelayanan.

“Pergilah dengan hati yang gembira, ceritakan kebaikan-kebaikan yang kalian alami di sini. Fakfak bukan kota sembarang. Alamnya turut membentuk karakter, karena hanya yang benar-benar berjuang yang akan berhasil,” imbuhnya.

Pdt. Sawor juga menyampaikan penghargaan dan kebanggaannya kepada masyarakat Mbaham Matta yang mendukung penuh kegiatan ini, tanpa memandang latar belakang denominasi atau agama.

“Fakfak dikenal dengan filosofi Satu Tungku Tiga Batu, namun maknanya berbeda di sini. Di tempat lain, tiga batu itu adalah pemerintah, masyarakat, dan gereja. Tetapi di Fakfak, tiga pilar itu adalah pemerintah, masyarakat, dan seluruh unsur agama. Harmoni yang seperti inilah yang menjadikan negeri ini kuat,” pungkasnya.

Penutupan Temu Raya III GSM ditandai dengan penabuhan tifa, yang mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan penuh semangat dan kebersamaan, dilanjutkan dengan Ibadah Doa Syukur Sekolah Minggu Se-Tanah Papua, sekaligus Ibadah Penutupan Temu Raya III GSM Se-Tanah Papua Tahun 2025.

(Reporter/Editor: Salmon Teriraun)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: