Cuaca Ekstrem Picu Rangkaian Bencana, Satu Korban Jiwa dan Puluhan Rumah Terancam

Ambon – Hujan deras yang mengguyur Kota Ambon sepanjang Sabtu, 21 Juni 2025, hingga Minggu pagi, 22 Juni 2025, memicu bencana tanah longsor secara masif di sedikitnya 34 titik di sejumlah kecamatan.

Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon mencatat satu orang meninggal dunia dan kerusakan pada tiga rumah serta satu talud penahan tanah.

Bencana paling banyak terjadi di Kecamatan Sirimau dan Baguala, termasuk kawasan Batu Gajah, Batu Meja, Passo, dan Urimessing. Sebagian besar longsor disebabkan tingginya intensitas curah hujan yang mencapai puncaknya pada malam hari. Bencana ini berdampak langsung terhadap puluhan keluarga, terutama mereka yang tinggal di daerah lereng atau bantaran bukit.

“Kondisi cuaca didominasi hujan deras disertai petir dengan kelembapan tinggi mencapai 96 persen. Hal ini memicu ketidakstabilan tanah di sejumlah titik rawan,” ujar salah satu petugas piket pos komando BPBD, Rosina J. Manuputty, dalam laporan tertulis.

Laporan BPBD menyebut longsor terjadi antara pukul 01.00 hingga 18.54 WIT. Di antara yang terdampak, keluarga Louis Waitau di Skip Atas, keluarga Venty Belyanan di Passo, dan keluarga Steven Parinussa di Batu Meja mengalami kerusakan signifikan pada bagian rumah mereka.

Selain longsor, cuaca ekstrem juga menyebabkan pohon tumbang, seperti yang menimpa rumah keluarga Charles Latuheru di Negeri Hatalai, Kecamatan Leitimur Selatan, sekitar pukul 04.00 WIT.

Menanggapi situasi ini, BPBD Kota Ambon memperpanjang Status Siaga Darurat serta mengaktifkan Pos Komando Siaga Darurat selama 24 jam. Petugas BPBD telah mendistribusikan bantuan darurat seperti terpal, karung, gerobak, dan sekop ke lokasi terdampak.

Masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana diminta tetap waspada dan mengikuti arahan petugas. “Kami terus melakukan pemantauan melalui posko siaga dan kamera CCTV milik Pemkot Ambon untuk mengantisipasi banjir atau longsor susulan,” imbuh Supervisor Pusdalops-PB, Paul A. Sahetapy.

BMKG telah mengeluarkan peringatan dini sejak 20 Juni, yang berlaku hingga 26 Juni 2025. Cuaca diperkirakan masih akan berawan tebal dengan potensi hujan petir. Suhu udara berkisar antara 26–31°C, kecepatan angin timur 7–16 km/jam, dan kelembapan tinggi antara 86–96 persen.

Kondisi perairan sekitar Maluku juga diperkirakan akan dilanda gelombang tinggi, sehingga nelayan dan pengguna transportasi laut diimbau lebih berhati-hati.

BPBD menyatakan tidak ada kendala berarti dalam penanganan bencana ini. Meskipun jumlah kejadian tergolong tinggi dalam waktu singkat, seluruh personel lapangan dikerahkan secara maksimal.

BPBD kembali menegaskan kepada warga Ambon, khususnya yang bermukim di lereng bukit, bantaran sungai, atau dataran rendah untuk tetap siaga. Jika terjadi hujan deras berkepanjangan, warga diminta segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

“Keselamatan jiwa adalah prioritas utama,” ujar Etvin S.H. Tamtelahitu, salah satu petugas siaga.

(Reporter: Ali Gurium)
(Editor: Salmon Teriraun)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: