Fakfak – Penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa daerah bukanlah pekerjaan mudah. Proses ini membutuhkan keahlian kebahasaan yang kuat serta fondasi iman yang kokoh.

Untuk memperkuat kapasitas dalam aspek kebahasaan, Tim Penerjemahan Alkitab Bahasa Iha (PenA Bahasa Iha) akan mengikuti Lokakarya Ortografi di Jayapura, yang dijadwalkan berlangsung pada 11–22 Agustus 2025.

Lokakarya ini bertujuan memperdalam pemahaman tentang ortografi sistem penulisan yang mencakup ejaan, tanda baca, dan aturan gramatikal lainnya yang sangat krusial dalam penerjemahan kitab suci ke dalam bahasa daerah.

“Ortografi berperan penting dalam memastikan akurasi, konsistensi, kemudahan pembacaan, serta penerimaan masyarakat terhadap hasil terjemahan,” jelas Kepala Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Tinggi Teologi (STT) GPI Papua, Pendeta Dr. Ronald Helweldery, M.Si, dalam keterangannya di Fakfak, Rabu (6/8/2025).

Beberapa tantangan dalam pengembangan ortografi untuk bahasa daerah di Papua mencakup minimnya dokumentasi, adanya variasi dialek, serta pengaruh bahasa lain seperti Indonesia atau Inggris.

Oleh karena itu, pendekatan yang berbasis penelitian dan konsultasi dengan penutur asli sangat dibutuhkan agar ortografi yang digunakan benar-benar sesuai dengan konteks bahasa dan budaya setempat.

Setelah lokakarya, kegiatan akan dilanjutkan dengan pembahasan hasil terjemahan Injil Lukas pasal 3 hingga 8 bersama konsultan penerjemahan.

Program Penerjemahan Alkitab Bahasa Iha merupakan bagian dari inisiatif Gereja Protestan Indonesia di Papua (GPI Papua), yang dilaksanakan melalui kerja sama dengan Yayasan Misi Penginjilan dan Pemuridan Papua (YMP3).

STT GPI Papua bertindak sebagai pelaksana program, yang dipimpin langsung oleh Pdt. Dr. Ronald Helweldery, M.Si. Program ini mendapat dukungan pendanaan dari Seed Company, sebuah lembaga misi internasional yang berbasis di Amerika Serikat.

Adapun peserta dari Tim Penerjemahan Alkitab Bahasa Iha yang akan mengikuti lokakarya ini adalah Penatua Manasye Tuturop, Penatua John Elvin Hindom, Jordan Komber, dan Diego Kabes. Dr. Ronald Helweldery turut hadir sebagai fasilitator dalam kegiatan tersebut.

Dengan program ini, GPI Papua terlibat langsung dalam tugas merawat dan mengembangkan bahasa Iha sebagai warisan leluhur. Penerjemahan Alkitab menjadi salah satu wahana yang efektif untuk mendorong kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan budaya lokal Mbahamatta. Generasi muda Mbahamatta diharapkan dapat semakin bertumbuh dalam iman dan spiritualitas yang berakar pada kearifan budaya lokal.

Langkah nyata ini mencerminkan komitmen GPI Papua dalam mendukung pelestarian bahasa daerah melalui pemberitaan firman Tuhan, dan kiranya semakin mendapat dukungan dari masyarakat serta pemerintah daerah Kabupaten Fakfak. (pr)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: