Saumlaki – Peristiwa ledakan granat di sebuah rumah warga mengguncang Desa Atubul Dol, Kecamatan Wertamrian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Minggu (15/3/2026) malam.

Insiden yang terjadi sekitar pukul 22.15 WIT itu mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan sejumlah warga lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa tragis ini sekaligus memicu pertanyaan publik mengenai prosedur keamanan di sekitar lokasi latihan militer.

Pihak TNI Angkatan Darat buka suara terkait kejadian tersebut. Komandan Brigade Infanteri (Danbrigif) 27/Nusa Ina, Kolonel Inf Sri Widodo, menyampaikan belasungkawa dan memastikan bahwa investigasi tengah dilakukan secara intensif.

“Kami turut merasakan duka cita yang mendalam bersama keluarga korban. Sejak awal mendapatkan informasi, kami langsung berkoordinasi dengan kepolisian dan unsur terkait untuk mengantisipasi bahaya lebih lanjut,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (17/3/2026).

Ledakan diduga kuat berkaitan dengan sisa amunisi latihan mortir yang digelar Batalyon Infanteri (Yonif) 734 pada 8-9 Maret 2026.

Dalam latihan tersebut, total 198 butir amunisi ditembakkan. Sebanyak 197 butir dinyatakan meledak sesuai prosedur, sementara satu butir lainnya mengalami misfire atau gagal meledak.

Meski demikian, Kolonel Sri Widodo menegaskan kaitan antara amunisi tersebut dengan ledakan di permukiman masih dalam tahap penyelidikan tim teknis.

Salah satu fakta penting yang diungkapkan adalah proses pembersihan area latihan saat itu belum rampung.

“Hingga kini, kegiatan pembersihan belum selesai sepenuhnya, sehingga kami belum dapat menyatakan area tersebut benar-benar aman,” jelasnya.

Tim juga tengah menyelidiki kemungkinan adanya amunisi sisa dari latihan periode sebelumnya, yakni pada Desember tahun lalu, di lokasi yang sama.

Menurut keterangan TNI, sebelum pelaksanaan latihan, koordinasi telah dilakukan dengan pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat.

Surat pemberitahuan resmi telah disampaikan kepada Kepala Desa Amdasa dan Amtufu, serta dilakukan komunikasi langsung untuk menghindari kesalahpahaman.

Pascainsiden, TNI langsung bergerak melakukan penyisiran ulang di radius 100 meter dari titik sasaran latihan.

Dengan menggunakan alat pendeteksi logam dan penyisiran manual, tim menemukan setidaknya empat butir amunisi yang belum meledak. Masyarakat diimbau untuk tidak memasuki area tersebut hingga proses pembersihan dinyatakan tuntas.

“Kami juga meminta warga segera melaporkan jika menemukan benda asing yang diduga sisa amunisi,” tambahnya.

Sebagai bentuk tanggung jawab, TNI telah memberikan bantuan pengobatan bagi korban luka dan membantu proses pemakaman bagi korban meninggal.

Ke depan, pihak militer berencana mengevaluasi penggunaan lahan latihan yang selama ini merupakan tanah milik masyarakat. “Kami berharap ke depannya dapat memiliki lokasi latihan permanen yang lebih aman dan jauh dari permukiman,” tandas Kolonel Sri Widodo. (bn/pr)