Fakfak – Perayaan Idul Fitri di berbagai daerah di Indonesia memiliki keunikan tersendiri, salah satunya di Kampung Sekru dan Kampung Sekru Tuare, Distrik Pariwari, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Setelah menunaikan Salat Idul Fitri 1466 Hijriah, masyarakat setempat melanjutkan dengan tradisi menggunting rambut balita sebagai simbol penyucian diri.
Dalam tradisi ini, imam masjid dan tokoh agama setempat secara bergantian menggunting rambut 6 orng anak kecil.
Ritual ini diyakini sebagai tanda permulaan kehidupan yang lebih bersih dan suci setelah bulan Ramadan.
Selain itu, tradisi ini juga mencerminkan doa dan harapan agar anak-anak tumbuh dengan akhlak yang baik serta diberkahi oleh Allah SWT.
Muhammad Biarpruga, Imam Tua Masjid Abubakar Ash-Shiddiq Kampung Sekru Kabupaten Fakfak mengatakan, masyarakat Kampung Sekru meyakini menggunting rambut balita tidak hanya sebatas simbol, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap nilai-nilai spiritual dan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Gunting rambut atau istilah orang di sini ambil rambut anak-anak di usia 1 bulan sampai 2 tahun ini dilaksanakan biasanya di rumah, namun keyakinan kami di Idul Fitri inilah takbir lebih besar dari segala-galanya sehingga yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan itu kita tetap laksanakan di masjid dengan perbanyak takbiran untuk pelaksanaan gunting rambut,” ujar Muhammad Biarpruga, Imam Tua Masjid Abubakar Ash-Shiddiq Kampung Sekru Kabupaten Fakfak.
Selain itu, menurutnya, gunting rambut ini berdasarkan Hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
“Gunting rambut ini juga sudah sejak turun temurun seperti ini pelaksanaannya, sehingga kita tetap melaksanakan berdasarkan yang sering dilaksanakan oleh orang tua dulu, terutama yang berkaitan dengan keagamaan,” jelasnya.
Setelah gunting rambut, kata Biarpruga, orang tua wajib membawa anak-anak untuk sunatan atau khitanan, setelah itu anak-anak diikutkan mengaji.
“Adanya pnotong rambut ini, kita orang tua berdoa agar anak-anak ini semakin sehat, cerdas dan ke depan menjadi anak yang sholeh dan sholeha berbakti kepada orang tua agama bangsa dan negara, itu yang paling utama,” kata Biarpruga.
Pantauan media ini, para orang tua membawa anak-anak mereka dengan penuh antusiasme, berharap keberkahan bagi buah hati mereka.
Selain prosesi gunting rambut, suasana Idul Fitri di Fakfak juga diwarnai dengan kebersamaan dan silaturahmi antarwarga. Hidangan khas lebaran disajikan, mempererat hubungan sosial di antara masyarakat.
Tradisi ini menjadi bagian dari kekayaan budaya Fakfak yang tetap dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi.
Adanya tradisi seperti ini, Idul Fitri di Fakfak tidak hanya menjadi momen kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga perwujudan nilai-nilai religius dan budaya yang terus hidup dalam kehidupan masyarakat setempat. (st/pr)
Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di:












Tinggalkan Balasan