Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat telah mengajukan proposal berisi 15 poin kepada Iran dalam upaya diplomatik untuk mengakhiri ketegangan yang masih berlangsung.
Informasi ini diperoleh dari dua sumber regional dan seorang pejabat AS, di tengah langkah Presiden Donald Trump yang menyetujui penambahan pengerahan pasukan ke kawasan Timur Tengah.
Proposal tersebut disampaikan melalui Pakistan sebagai perantara, meski belum ada kepastian mengenai respons resmi dari pihak Iran.
Presiden Trump mengonfirmasi keberadaan rencana tersebut pada Senin (24/3/2026) dan menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan dapat segera terwujud.
“Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir. Itu nomor satu. Itu nomor satu, dua, dan tiga,” tegas Trump, seraya menambahkan, ia meyakini Iran telah menyetujui substansi utama terkait penghentian pengembangan senjata nuklir.
Sementara itu, Iran secara konsisten menyatakan program nuklirnya ditujukan untuk tujuan sipil, bukan militer.
Di tengah upaya diplomasi yang berlangsung, pemerintah AS mengambil langkah militer dengan menyetujui pengerahan lebih dari 1.000 personel dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke kawasan Timur Tengah.
Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap dinamika keamanan regional yang dinilai meningkat.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan, pihaknya terus memantau pergerakan militer AS dan memberikan peringatan keras melalui media sosial, mengingatkan agar tidak menguji tekad negaranya dalam mempertahankan kedaulatan.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari Teheran mengenai poin-poin dalam proposal yang diajukan.
Proses negosiasi yang melibatkan Pakistan sebagai perantara masih terus berlanjut, sementara komunitas internasional mencermati apakah kedua belah pihak dapat menemukan titik temu di tengah eskalasi militer dan tekanan diplomatik yang tinggi. (bn/pr)















Tinggalkan Balasan