Fakfak – Umat Muslim di Kampung Sekru dan Kampung Sekru Tuare, Distrik Pariwari, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, merayakan Idul Fitri 1466 Hijriah lebih awal dibandingkan perayaan umum. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun sejak leluhur mereka memeluk agama Islam.
Muhammad Biarpruga, Imam Tua Masjid Abubakar Ash-Shiddiq Kampung Sekru, mengawali penyampaiannya dengan mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri kepada seluruh kaum Muslimin dan Muslimat di wilayah tersebut.
Ia menegaskan, perayaan lebih awal ini bukanlah fenomena baru, melainkan warisan dari para pendahulu mereka yang telah dilakukan setiap tahun.
Menurutnya, metode penentuan awal Ramadan dan 1 Syawal di Kampung Sekru tidak didasarkan pada pemantauan hilal seperti yang umum dilakukan di Indonesia, melainkan menggunakan metode perhitungan hari yang dikenal oleh orang-orang tua di kampung mereka.
“Ini bukan karena ingin dikenal oleh banyak orang, tetapi karena memang demikian cara perhitungan yang telah diwariskan. Leluhur kami menggunakan metode perhitungan dengan jari, tidak berdasarkan pengamatan bulan, tetapi dengan menghitung hari. Sehingga, awal Ramadan bagi kami jatuh pada 27 Februari, dan setelah berpuasa selama 30 hari, maka hari ini kami merayakan Idul Fitri,” jelas Muhammad Biarpruga usai Salat Id.
Ia juga mengimbau kepada seluruh jamaah di Kampung Sekru dan Kampung Sekru Tuare agar tetap melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya Islam yang telah ada sejak lama di daerah mereka.
Perayaan Idul Fitri yang lebih awal ini menjadi bukti keberagaman dalam praktik keagamaan di Indonesia, sekaligus mencerminkan kekayaan budaya Islam yang berkembang di berbagai daerah.
Tradisi turun-temurun ini juga menunjukkan kuatnya kearifan lokal dalam menentukan waktu ibadah yang tetap dijaga dan dihormati oleh masyarakat setempat. (st/pr)
Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di:





Tinggalkan Balasan