Ambon – Perusahaan eksplorasi dan produksi gas alam, INPEX Masela, memperkuat kapasitas perempuan penenun di Kepulauan Tanimbar, Maluku, melalui program pelatihan.

Tujuannya, agar tenun ikat khas Tanimbar tak hanya lestari secara budaya, tetapi juga mampu bersaing di pasar nasional dan internasional.

“Ini bagian dari Program Pengembangan Masyarakat INPEX, khususnya pemberdayaan ekonomi di wilayah ring I Proyek LNG Abadi,” jelas Puri Minari, Senior Manager Communication & Relations INPEX Masela Ltd, di Ambon, Selasa (17/5/2025).

Program ini menyasar pengrajin tenun ikat di Desa Latdalam, Kecamatan Tanimbar Selatan. Tak sekadar meningkatkan keterampilan teknis, pelatihan juga memperdalam pemahaman filosofi dan makna simbolik tenun sebagai warisan budaya.

INPEX menggandeng Fince Watutamata, penenun senior sekaligus pendiri Toko Tenun Glora Saumlaki, sebagai fasilitator. Fince membimbing para “mama” (sebutan untuk perempuan setempat) dalam teknik menenun, desain kontemporer, hingga strategi pemasaran.

“Kami bantu mereka menyesuaikan motif dan kualitas dengan permintaan pasar. Harapannya, produk bisa lebih kompetitif,” ujar Fince.

Salah satu peserta, Mama Yoke, mengaku terbantu. “Kami dapat ilmu baru sekaligus tambahan penghasilan. Tenun kami sekarang lebih diminati,” katanya.

Hasil tenun Tanimbar telah dipamerkan di berbagai ajang bergengsi, termasuk The 49th Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) di BSD, Tangerang, Mei lalu. Bahkan, INPEX menjadikannya cenderamata bagi delegasi internasional.

“Semua tenun yang kami pakai di IPA Convex dibeli langsung dari pengrajin. Ini bentuk dukungan nyata bagi ekonomi lokal,” tegas Puri.

INPEX, perusahaan migas asal Jepang, saat ini menggarap Proyek LNG Abadi di Blok Masela, Laut Arafura—salah satu lapangan gas terbesar di Indonesia dengan cadangan signifikan. Proyek ini tak hanya berorientasi pada energi, tetapi juga pemerataan ekonomi, khususnya bagi perempuan di wilayah operasi.

“Keberlanjutan budaya dan ekonomi harus berjalan beriringan. Tenun ikat adalah aset yang bisa mendorong industri kreatif Tanimbar,” pungkas Puri.

Dengan pendampingan berkelanjutan, tenun Tanimbar tak hanya menjadi simbol kearifan lokal, tetapi juga tiket menuju kesejahteraan yang lebih inklusif.

(Sumber: Antara)
(Editor: Salmon Teriraun)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: