Fakfak — Tahun pertama kepemimpinan kerap menjadi fase paling menentukan. Bukan semata tentang capaian angka, melainkan bagaimana arah ditata, fondasi dibangun, dan kepercayaan publik dirajut kembali.
Di Kabupaten Fakfak, tahun 2025 menjadi titik awal perjalanan Samaun Dahlan dan Donatus Nimbitekendik dalam menakhodai pemerintahan daerah.
Sejak dilantik, pasangan ini dihadapkan pada realitas birokrasi yang perlu ditata ulang, tuntutan pelayanan publik yang mendesak, serta ekspektasi masyarakat yang ingin melihat perubahan nyata.
Tahun pertama pun dijalani sebagai masa konsolidasi menyusun ulang ritme pemerintahan, menyelaraskan visi, dan memastikan negara hadir hingga ke kampung-kampung.
“Kami menyadari tahun pertama bukan untuk mengejar sensasi, tetapi untuk menata dasar. Fondasi yang kuat akan menentukan keberlanjutan pembangunan Fakfak ke depan,” kata Samaun Dahlan dalam salah satu pernyataannya.
Langkah awal pemerintahan diarahkan pada sektor yang paling dekat dengan kebutuhan warga, yakni pendidikan dan kesehatan.
Program pendidikan gratis dan layanan kesehatan gratis, termasuk makan gratis bagi pendamping pasien di RSUD Fakfak, menjadi kebijakan yang langsung dirasakan masyarakat.
Kebijakan ini bukan tanpa risiko fiskal. Namun, pemerintah daerah menilai keberpihakan pada pelayanan dasar sebagai investasi sosial jangka panjang.
“Kalau masyarakat sehat dan anak-anak bisa sekolah tanpa beban, pembangunan akan berjalan lebih cepat,” ujar Samaun.
Dari sisi legislatif, DPRK Fakfak menilai langkah tersebut tepat, meski tetap mengingatkan pentingnya pengawasan dan keberlanjutan anggaran agar program tidak berhenti di tengah jalan.
Pemerataan pembangunan menjadi tema yang terus digaungkan sepanjang 2025. Penyediaan listrik 24 jam di Distrik Teluk Patipi, menjadi salah satu simbol kehadiran negara di wilayah yang selama ini minim layanan dasar.
Wakil Bupati Fakfak Donatus Nimbitkendik menegaskan pembangunan tidak boleh berhenti di pusat kota.
“Kampung harus menjadi bagian dari arus pembangunan. Kalau kampung tertinggal, maka Fakfak tidak akan maju secara utuh,” kata Donatus.
Bagi warga, listrik yang menyala sepanjang hari bukan sekadar fasilitas, melainkan pembuka peluang anak-anak belajar di malam hari, usaha kecil bertahan, dan aktivitas sosial menjadi lebih hidup.
Di balik program publik, pembenahan internal pemerintahan juga berjalan. Inspeksi mendadak ke sejumlah organisasi perangkat daerah dilakukan untuk memastikan disiplin ASN dan kualitas pelayanan publik.
Pemerintah daerah bersama DPRK juga menyusun RPJMD 2025–2029 sebagai peta jalan pembangunan lima tahun ke depan.
Langkah ini menandai upaya menyeimbangkan kerja teknokratis dengan sensitivitas sosial dua hal yang sering kali menjadi tantangan dalam pemerintahan daerah.
Ketika kebakaran melanda kawasan pertokoan Fakfak, Bupati dan Wakil Bupati turun langsung ke lokasi.
Kehadiran pemerintah di tengah warga terdampak menjadi pesan simbolik bahwa negara tidak absen dalam situasi krisis.
“Dalam kondisi darurat, yang paling dibutuhkan masyarakat adalah kepastian bahwa pemerintah hadir bersama mereka,” ujar Samaun.
Legislator daerah mengapresiasi respons cepat tersebut, sembari mendorong agar penanganan pascabencana disertai skema pemulihan ekonomi jangka menengah.
Menjelang akhir 2025, perhatian diarahkan pada program sosial dan ketahanan pangan. Bantuan pangan disalurkan kepada ribuan keluarga penerima manfaat di 17 distrik, disertai panen raya padi sebagai simbol upaya kemandirian pangan daerah.
Penyerahan SK PPPK kepada ratusan tenaga kerja juga menjadi bagian dari penataan aparatur pemerintahan.
Tahun pertama kepemimpinan ini belum menjawab semua persoalan Fakfak. Namun, arah mulai terlihat. Fondasi sedang dirintis perlahan, tetapi pasti.
“Kami tidak menjanjikan segalanya selesai dalam satu tahun. Yang kami janjikan adalah kerja yang konsisten dan keberpihakan pada masyarakat,” kata Donatus.
Menapak tahun pertama 2025, kepemimpinan Samaun Dahlan–Donatus Nimbitekendik masih berada di fase merintis.
Tantangan ke depan tidak ringan, mulai dari keterbatasan anggaran hingga tuntutan pemerataan pembangunan. Namun, tahun awal ini telah menjadi penanda arah sedang ditata, dan harapan publik mulai dirawat.
Bagi Fakfak, perjalanan masih panjang. Tetapi seperti pembangunan itu sendiri, langkah awal selalu menentukan. (Salmon Teriraun/Pemimpin Redaksi PrimaRakyat.com)
Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di:





Tinggalkan Balasan