Fakfak – Dr. Ronald Helweldery, M.Si salah satu akademisi menilai Pemerintahan Kabupaten Fakfak di bawah kepemimpinan Bupati Fakfak Untung Tamsil dan Calon Wakil Bupati Fakfak Yohana Dina Hindom tidak gagal membangun Fakfak melainkan pro rakyat, meski hanya masa kepemimpinan tiga tahun kurang.

Hal ini disampaikan Ronald Helweldery menanggapi pemberitaan dilansir media PrimaRakyat.com tertanggal 13 Oktober 2024 berjudul Pemerintahan Untung Tamsil Gagal Membangun Fakfak.

“Uta’Yoh jilid satu hanya punya waktu tiga tahun kurang tapi sejak menetapkan program-program utama yang lagsung terkait erat dangan dua kebutuhan dasar: Air Bersih dan Listrik,” ujar Ronald Helweldery dalam catatan ringkasnya kepada media ini, Minggu (13/10/2024).

Menurutnya, program-program ini terobosan luar biasa, yang sekian periode bakti para bupati sebelumnya tidak menempatkan dua urusan dasar ini sebagai program pembangunan utama Kabupaten Fakfak.

“Dua urusan dasar ini akan menggerakkan kegiatan masyarakat dari kota sampai ke kampung-kampung,” kata Ronald Helweldery.

Ia mengakui, program-program ini menunjukkan bahwa Uta’Yoh punya visi dan misi yang relevan dan patut didukung untuk melanjutkan dangan transformasi-transformasi yang lebih kuat dan luas.

“Kami memberikan penghargaan obyektif ini untuk dijadikan batu uji dalam mengkaji visi dan misi dalam pilkada Kabupaten Fakfak 2024 ini. Jadi tematik tepat untuk Uta’Yoh adalah “melanjutkan dengan transformasi atau Perubahan mendasar-meluas”,” jelasnya.

“Hal berikut yang patut kami kedepankan adalah bahwa tata nilai dan kearifan lokal harus menjadi pemandu etik dalam menata dan menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan serta pelayanan masyarakat di berbagai bidang kehidupan,” tambahnya.

Ronald Helweldery juga menjelaskan, Uta’Yoh telah menunjukkan aspek ini dengan mempertahankan pasangan Uta’Yoh (anak Untung Tamsil dan Mama Yohana Hindom) sebagai pasangan yang maju dalam kontestasi pilkada 2024.

“Keputusan untuk maju ini adalah sejarah penting dalam pembangunan etika politik berbasis kearifan lokal.  Mengapa ini penting? Karena dalam sejarah pasangan pimpinan daerah (Bupati/Wakil Bupati) tidak pernah langgeng, bahkan penuh konflik dan perpisahan antara bupati dan wakil bupati,” tuturnya.

Dan, sambung Ronad Helwedery, Uta’Yoh telah meletakkan dasar etik moral politik kepemimpinan daerah dalam sejarah politik pilkada dan pemerintahan daerah Fakfak.

“Uta’Yoh sebagai wakil independen yang memegang tampuk pemerintahan daerah Fakfak harus berjuang menghadapi resistensi politik di badan legislatif dan komponen struktural dalam organisasi dan manajemen pemerintahan daerah,” terangnya.

Walaupun begitu, kata Ronald Helweldery, waktu tiga tahun kurang telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam menata pemerintahan daerah dan pembangunan serta pelayanan masyarakat.

“Independensi menunjukan bahwa suara rakyat dalam Pilkada 2020 lalu seharusnya diuji lagi dalam pemerintahan 2024-2029. Kita berharap pilihan rakyat akan makin mewujud dalam dan melalui pilkada 2024 ini,” pintanya. (pr)