Fakfak — Jemaat Gereja Protestan Indonesia (GPI) Papua Diaspora Fakfak mengikuti Ibadah Minggu Advent III yang berlangsung khidmat pada Minggu (14/12/2025).

Ibadah tersebut dipimpin oleh Pelayan Firman GPI Papua, Pendeta Lesly Maitimu, S.Th., dengan nuansa sukacita iman dalam penantian kedatangan Kristus.

Pembacaan Alkitab diambil dari Yesaya 62:10–12, sementara ayat emas (introitus) terambil dari Filipi 4:4, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”

Ayat tersebut menjadi benang merah khotbah yang menekankan pentingnya sukacita iman yang diwujudkan secara aktif dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam khotbahnya, Pendeta Lesly Maitimu mengajak jemaat untuk bersyukur karena dapat kembali berkumpul dan beribadah dalam keadaan sehat, meskipun hidup tidak lepas dari berbagai persoalan.

Menurutnya, sukacita sejati tidak bergantung pada situasi, melainkan pada relasi yang hidup dengan Tuhan.

Pendeta Lesly menafsirkan pesan Yesaya 62 sebagai panggilan Allah agar umat-Nya “berjalan melalui pintu-pintu gerbang”, sebuah perintah aktif untuk melangkah maju bersama Tuhan.

Ia mengingatkan, Yesus Kristus adalah jalan, dan ketika umat berjalan bersama-Nya, tidak ada batu sandungan yang tidak dapat disingkirkan.

“Jika Tuhan telah membuka jalan, tidak ada seorang pun yang mampu menghalanginya. Ketika satu jalan tertutup, Tuhan menyediakan jalan lain bagi mereka yang mau berjalan bersama-Nya,” ujar Pendeta Lesly di hadapan jemaat.

Ia menegaskan, berjalan bersama Tuhan bukan sekadar sikap pasif atau berjalan di tempat, melainkan tindakan iman yang nyata.

Jemaat diajak untuk tidak berdiam diri dalam persoalan, tetapi aktif mencari kehendak Tuhan, membuka diri terhadap nasihat yang membangun, serta terus melangkah dengan optimisme iman.

Lebih lanjut, khotbah tersebut menyoroti realitas dosa sebagai penghalang utama dalam relasi manusia dengan Allah.

Dosa, menurut Pendeta Lesly, sering kali membuat manusia kehilangan keberanian untuk berjumpa dengan Tuhan. Namun, melalui Yesus Kristus, Allah membuka jalan baru, membersihkan batu-batu penghalang, dan memulihkan hubungan yang retak.

Dalam konteks kehidupan keluarga, jemaat diingatkan untuk mempersiapkan “jalan” bagi kehadiran Tuhan dengan membenahi relasi suami-istri, orang tua dan anak, serta membangun rumah tangga yang dipenuhi doa, pengampunan, dan kasih. Tanpa perdamaian dan saling menyapa dalam keluarga, kehadiran Tuhan sulit dirasakan secara utuh.

Pendeta Lesly kembali menegaskan pesan Rasul Paulus dalam Filipi 4:4, sukacita adalah perintah iman. Sukacita tidak datang dari orang lain, melainkan lahir dari keputusan untuk hidup di dalam Kristus, berdoa, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

“Dalam situasi apa pun, kita dipanggil untuk tetap bersukacita. Dari sanalah damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiran kita,” tuturnya. (ft/pr)

Dapatkan berita terupdate dari PrimaRakyat.Com di: